2 - Tanda Mengandalkan Amal



 بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْ


Orang yang mengandalkan amal ada 2 yaitu
 - Orang yang ingin masuk surga  dan takut masuk neraka
 - Orang yang melakukan dzikir dan wirid untuk membersihkan hatinya
Orang yang merasa tidak akan mendapat rahmat dari Allah karena telah melakukan suatu dosa, merasa kurang pengharapan untuk mendapat rahmat dari Allah agar dimasukkan surga dan dijauhkan dari api neraka. Mereka merasa bahwa dirinya telah melakukan maksiat sehingga Allah tidak akan memberi Rahmat kepadanya. Lalu membuat mereka berputus asa untuk berbuat baik sehingga mereka meneruskan dan mengulangi maksiat-maksiatnya karena merasa bahwa dirinya sudah tidak akan masuk ke surga.
Seseorang merasa kurang pengharapannya terhadap rahmat Allah agar hatinya menjadi bersih ketika telah melakukan dosa. Ketika seseorang melakukan dzikir dan wirid karena ingin membersihkan hatinya dan menjadikan dirinya menjadi lebih terhormat suatu ketika melakukan dosa atau maksiat dia merasa bahwa hatinya tidak akan menjadi bersih dan tidak akan menjadi orang terhormat sehingga dia meneruskan dan mengulangi maksiatnya karena merasa bahwa hatinya tidak akan menjadi bersih.
Itulah tanda-tanda orang yang akan mengandalkan amalnya ketika telah melakukan kebajikan. Janganlah kamu andalkan amal dari kebajikanmu karena itu adalah bagian dai nafsu.
Jangan berhenti berharap atas pertolongan Allah dan mendapat RahmatNya walaupun mungkin kita telah melakukan maksiat. Jangan sampai kita berputus asa karena itu adalah hawa nafsu yang mana bila kita mengikuti hawa nafsu maka sama artinya kita mengikuti ajakan syetan.
Orang yang bisa mengerti agar tidak mengandalkan amal yaitu orang yang arif. Yaitu orang yang tidak memperdulikan dirinya sendiri karena kalau memperdulikan dirinya akan menjadi sombong. Memperdulikan diri di sini berarti tidak melihat siapa dirinya, seberapa besar sodaqoh, berapa kali ibadah haji, mereka tidak pernah memperdulikan hal itu. Seakan-akan mereka tidak mempunyai amal yang baik. Jadi walau melakukan ibadah tidak pernah melihat nilai pahalanya.

Mereka juga tidak memperdulikan walau telah melakukan dosa. Bukan berarti kemudian selalu melakukan dosa. Tetapi dia merasa bahwa ketika dia telah melakukan dosa itu merupakan bagian dari perjalanan hidup dan sudah berlalu. Buakn kemudian di salah artikan menjadi selalu melakukan dosa karena itu adalah bagian dari takdir, tetapi dia selalu berusaha untuk tidak mengulangi maksiat tersebut dan tetap mengharap rahmat Allah. Dan tetap beribadah untuk mendapat rahmat dari Allah. Sehingga dia beribadah tanpa memperbesar harapan dia untuk mendapat surga dan melakukan maksiat tanpa memperbesar rasa takut dia atas siksa neraka. Dia merasa bahwa amalan atau maksiat yang telah dia lakukan tidak akan mempengaruhi terhadap Rahmad yang akan diberikan oleh Allah kepada hambaNya.

** Kutiban pengajian KH. Yazid Bustomi


EmoticonEmoticon