4 - Menyimbangkan Kehidupan

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْ


Sebesar apapun kekuatan kita, tidak akan bisa melawan takdir Allah. Sudah berbagai cara kita lakukan untuk mencapai keinginan dan cita-cita tetapi itu tidak akan bisa menentukan hasil dari usaha kita. Karena seperti apapun kita mencoba dan melawan kita tidak akan bisa melawan kemapanan takdir Allah. Dan kita harus menyakini bahwa takdir Allah itu adalah yang terbaik untuk diri kita.
Istirahatkan hatimu untuk mengatur atas urusan dunia. Jangan kita mengira kita sudah mempunyai
kepandaian lalu kita akan bisa menentukan hasil dan jawaban dari usaha kita. Coba direnungkan siapa yang telah memberi kepandaian? Siapa yang telah memberi kita kekuatan. Maka hanya Allah lah berhak atas kepandaian dan kekuatan yang kita miliki. Seberapa pandai otak kita tidak akan bisa mengalahkan ilmu Allah, atau seberapa besar kekuatan yang kita miliki tidak akan bisa mengalahkan kekuatan yang dimiliki oleh Allah.


Punya keinginan untuk mencapai cita-cita, jangan terlalu yakin cita-cita itu akan tercapai. Jika terlalu yakin akan cita-cita, pasti kamu akan capek dan payah. Karena memang bukan kita yang menentukan hasilnya. Segala cara dilakukan untuk mencapai cita-citanya, karena keinginan yang terlalu kuat akhirnya dia berpikir bahwa apa yang dinginkan harus tercapai, apa yang dia harapkan harus terwujud, sehingga segala cara dilakukan tanpa berpikir halal atau haram  cara itu. Dia ingin menjadi BOS di suatu perusahaan, karena terlalu besarnya keinginan untuk mencapai hal itu maka segala cara dilakukan mungkin dengan memfitnah teman kerja, manipulasi data atau lain sebagainya. Padahal itu tidak akan menentukan hasil. Jika Allah mentakdirkan dia menjadi staff sudah pasti dia tidak akan menjadi BOS. Hal itu sungguh melelahkan dan sia-sia. Atau bisa juga seseorang bekerja siang dan malam hingga lupa anak-istri menunggu dirumah, lupa untuk sholat dan mengaji. Bekerja kerasnya itu tidak akan bisa merubah kemapanan takdir Allah. Kita ingin punya rejeki 1 drum tapi Allah hanya memberi 1 gelas, maka hanya 1 gelas lah yang akan kita terima
Aturlah kehidupanmu dengan cara yang sederhana. Jangan sia-siakan hidup hanya untuk mengatur hasil dari apa yang telah kamu usahakan. Maka lelah dan payah lah yang akan kamu rasakan. Coba atur hidup dengan cara yang sederhana, jika itu sudah cukup dan menangkan hati maka bersyukurlah. Bangun tidur sholat subuh, ngopi dan makan tempe goreng, kerja dulu sebentar mencari sedikit nafkah untuk anak dan istri, sholat dzuhur kemudian ngobrol dengan orang2 sholeh, menjalin silarohim, sholat ashar lalu mengajarkan sedikit ilmu yang dimiliki kepada anak-anak kampung, sholat maghrib, diteruskan makan bersama anak-istri lauk seadanya, sholat isya ngaji sebentar bersama warga lalu tidur. Bukannya itu simple, hanya mungkin kurang bersyukur dan mudah tergoda lah yang membuat kita terus mengejar dan ingin menentukan nasib kita. Padahal nasib kita sudah di takdir Allah.
Banyak orang kaya yang menjadi sakit karena hartanya, tidak sedikit orang miskin bahagia dengan kehidupan sederhananya. Karena bahagia itu bukan ada di harta. Bahagia juga bukan ada di keluarga atau bahagia itu ada di ibadah. Tapi bahagia itu ada di hati dan rahmat Allah. Buatlah hatimu tenang. Hati itu bisa di atur tenang atau gundah hanya dengan dengan rahmat Allah dan ridho Allah.
Jika kita terlalu mengatur kehidupan, itu akan bisa melepaskan sikap kehambaan kita. Coba kita renungkan kembali, siapa kita? Kita ini hanyalah seorang hamba yang harus mengikuti seperti apa takdir Allah. Jangan sekali-kali berpikir bahwa kita pasti bisa atau kita akan mencapai cita2 kita, jika sudah seperti itu hal itu akan membuat kita lupa bahwa kita adalah hamba Allah yang sebenarnya hanya Allah lah yang berhak atas diri kita.

Semoga kita selalu merasa bahwa kita hanyalah hamba, sehingga kita akan merasa ikhlas menjalani takdir Allah, entah takdir baik ataupun takdir buruk. Kita harus selalu meyakini bahwa takdir Allah lah yang terbaik. Semoga Allah memberikan ridho dan rahmat nya kepada kita semua.

** Kutiban pengajian KH. Yazid Bustomi
Previous
Next Post »
Thanks for your comment