5 - Terhapusnya Mata Hati

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْ

Hikmah yang lalu sudah kita bicarakan bahwa jika sudah ada yang menanggung suatu urusan/pekerjaan kita tidak usah ikut meributkan/memikirkan. Seperti misalnya kita meletakkan semua urusan kepada Allah SWT maka kita tidak perlu ikut campur akan urusan tersebut. Pokoknya bersyukur dan bekerja seperti biasa saja, seadanya dan semampunya. Ketentuan nasib kita serahkan kepada Allah SWT


 Ada dua hal yang merupakan kesahalan yang cukup besar bagi kita yang dapat menyebabkan kebutaan mata hati:
1.       Terlalu sibuk bersungguh-sungguh mengejar sesuatu yang sesungguhnya sudah menjadi ketentuan Allah.
2.       Ceroboh dalam melakukan suatu perkerjaan / tuntutan berupa amal yang bisa menyampaikan diri kita kepada Allah

1.    Terlalu sibuk bersungguh-sungguh mengejar sesuatu yang sesungguhnya sudah menjadi ketentuan Allah.

Sebenarnya Allah sudah menentukan semua ketentuan nasib seoarang manusia. Sebagai contoh Allah  telah menanggung sesuatu yang telah kita usahakan seperti rejeki.  Semua apapun yang ada di dunia itu sudah diatur oleh Allah SWT seperti halnya rejeki. Entah masalah berapa hasilnya, dimana bekerjanya, bagaimana pekerjaannya, entah jadi petani, entah jadi teksini, entah jadi maling ataupun koruptor sekalipun semua itu sudah menjadi ketentuan dari Allah sebagai takdir. Selama kita hidup rejeki itu akan selalu mengejar kita. Walaupun secara kasat mata adalah kita yang selalu mengejar rejeki, sebenarnya rejekinya yang mengejar kita karena memang rejeki sudah menjadi ketetapan takdir Allah SWT. Jika kita munculkan pertanyaan untuk apa Allah itu menetapkan rejeki kepada kita? Tiada lain dan tiada bukan rejeki menjadi sebuah bukti kasih sayang Allah SWT kepada kita dengan pemberian rejeki. Bukan karena permintaan kita, tapi itu adalah murni pemberian Allah. Walau kita bekerja, berdoa, berusaha tetap rejeki itu adalah sesuatu pemberian Allah, bukan karena kita berdoa lalu Allah memberi rejeki berlimpah kepada kita, bukan seperti itu. Tapi memang karena kasih sayang Allah dan murni pemberian Allah, bukan karena kebaikan kita.

"Bukan karena permintaan kita, tapi itu adalah murni pemberian Allah"


Mari kita membuat permisalan, adalah seseorang bernama ahmad, pada awalnya dia berjualan salak. Ketika dia merasa bahwa ternyata berjualan salak kurang menguntungkan maka dia berlalih profesi untuk berjualan semangkan, ternyata setelah berjualan semangka ternyata dagangannya laris manis dan mendapat banyak keuntungan. Pada akhirnya pak ahmad bisa membeli rumah, membeli mobil, mensekolahkan anak2nya. Pertanyaannya, apakah karena jualan semangka itu pak ahmad bisa membeli rumah, mobil dan lain sebagianya? Jawabannya, bukan karena jualan semangka pak ahmad bisa melakukan itu semua, tapi karena Allah lah yang telah menentukan rejekinya, karena munculnya keinginan untuk berlalih dari jualan salak menjadi jualan semangka itu adalah karena Allah yang memunculkan keinginan tersebut. Jika Allah tidak memunculkan perasaan tersebut niscaya pak ahmad akan berpiindah profesi. Perasaan yang muncul itu juga disebut rejeki dari Allah SWT. Andaikata tidak diberi rasa/keingiinan tersebut maka pak ahmad tidak akan pindah profesi dan tidak akan bisa beli rumah dsb.

Kita misalkan lagi ada seseorang yang berkeinginan untuk sekolah sampai SD-SMP-SMA-kuliah S1-S2-S3 bahkan menjadi profesor dan mendapat izajah sehingga dia bisa bekerja dengan mengandalakan ijazah tersebut. Kita tidak boleh beranggakan bahwa seseorang tersebut mendapat pekerjaan tersebut karena sekolahnya, karena ilmunya, karena ijazahnya. Tapi karena adalah keinginan untuk sekolah yang muncul didalam hatinya untuk menuntut ilmu, jika tidak ada keinginan niscaya dia tidak akan menjadi seperti itu. Maka dapat kita simpulkan bahwa rejeki itu bukan hanya masalah uang, tapi munculnya keinginan didalam hati itu juga adalah rejeki dari Allah.

2.    Ceroboh dalam melakukan suatu perkerjaan / tuntutan berupa amal yang bisa menyampaikan diri kita kepada Allah

Amal apa saja yang menjadi tuntutan yaitu seperti sholawat, dzikir, sholat dan ibadah apapun bentuknya, karena Allah menciptakan manusia dan jin adalah untuk ibadaha, karena wujud didunia yang terlihat bukan sebagai ibadah itu hanya merupakan sarana saja. Ketika Allah sudah menuntut diri kita untuk beribadah, maka kita tidak boleh seenaknya sendiri dalam melakukan ibadah, harus sesuai dengan ketentuan Allah juga.

Dari keterangan diatas kita melihat bahwa kedua hal tersebut merupakan ciri butanya mata hati. Sebagai contoh, ketika kita di tuntut berkerja kita begitu bergairah dan semangat, tetapi ketika datang waktu sholat tidak ada semangatnya, bahkan selalu ditunda-tunda. Seharusnya kedua hal tersebut yaitu bekerja dan sholat itu harus sama-sama semangat. Ketidakmampuan kita untuk bersemangat akan urusan tersebut karena butanya mata hati kita.

Jadi apa sebenarnya yang dituntut dari kehidupan ini, berusaha untuk mendapatkan kekuatan untuk melakukan perintah Allah SWT, ketika kita sudah mendapatkan kekuatan tersebut maka kita akan dapat menghilangkan kebutaan hati. Maka dari kita harus mendahulukan sehatnya hati sebelum menyehatkan pikiran kita. Karena hati itu adalah awal mula dari segala urusan. Yaitu dengan selalu ingat kepada Allah SWT dan taat beribadah (mengerjakan sesuatu yang dapat mendekat diri kepada Allah. Kita harus terus mengusahakan untuk membangkitakan kekuatan Hati, karena jika kekuatan fisik itu datangnya dari Allah, tetapi jika kekuatan hati kita perlu mengusahakan.

Maka orang yang melakukan 2 hal tersebut adalah seseorang yang buta mata hatinya, kemudian akan muncul pertanyaan apakah didalam hati itu ada mata nya. ? karena yang kita kena selama ini adalah mata (lahir). Sebenarnya ada 2 jenis mata yaitu mata (lahir) dan mata (batin). Banyak orang yang mengatakan orang yang buta itu adalah buta mata (lahir) nya. Padahal yang sesungguhnya terjadi adalah orang yang buta itu adalah orang yang buta mata (batin) nya.orang yang memilki mata hati , dia akan mampu membedakan hal-hal yang maknawi atau tidak tampak oleh mata (lahir). Jika seseorang memiliki mata hati maka niscaya dia tdak akan melakukan kesalahan-kesalahan yang menjauhkan dirinya dari Allah SWT.


Kesimpulannya, jika kita mencari rejeki sepatutnya dan sewajarnya, tidak perlu mengejar-ngejar. Karena memang rejeki sudah menjadi ketentuan Allah SWT agar kita tidak termasuk seseorang yang buta mata hatinya.

** Kutiban pengajian KH. Yazid Bustomi
Previous
Next Post »
Thanks for your comment