Antara FDS dan Tujuan Pendidikan

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْ


Sejak bergulirnya tahun ajaran 2017-2018 hiruk pikuk tentang kurikulum pendidikan Indonesia seperti sedang diombang-ambing badai. Sejak munculnya peraturan Kemendikbud yaitu system pedidikan “full day school” yang ditetapkan sebagai Peraturan Menteri (Permen) Nomor 23 Tahun 2017 yang mengatur sekolah 8 jam sehari selama 5 hari alias full day school pada 12 Juni 2017.

Yang menjadi sorotan saya adalah pasal 2 Permen tersebut yang berbunyi:

(1) Hari Sekolah dilaksanakan 8 (delapan) jam dalam 1 (satu) hari atau 40 (empat puluh) jam selama 5 (lima) hari dalam 1 (satu) minggu.
(2) Ketentuan 8 (delapan) jam dalam 1 (satu) hari atau 40 (empat puluh) jam selama 5 (lima) hari dalam 1 (satu) minggu sebagaimana dimaksud pada ayat (1), termasuk waktu istirahat selama 0.5 (nol koma lima) jam dalam 1(satu) hari atau 2.5 (dua koma lima) jam selama 5 (lima) hari dalam 1 (satu) minggu.

Ada tujuan dari kementerian pendidikan dalam hal ini Bapak Muhadjir Effendy ketika menerapkan konsep full day school (FDS) yaitu “secara perlahan anak didik akan terbangun karakternya dan tidak menjadi liar di luar sekolah ketika orang tua mereka masih belum pulang dari kerja”, ketika di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Ada 2 tujuan utama dari perkataan beliau bahwa dengan menerapkan FDS maka karakter anak akan terbangun dan Anak tidak menjadi liar ketika pulang dari sekolah. Apakah benar karakter anak akan terbangun ketika anak bersekolah selama 8 jam sehari atau 5 hari dalam seminggu?. Karakter anak adalah hasil dari berbagai aspek kehidupan seperti sosial, ekonomi, budaya, agama, politik dan keamanan serta lingkungan dimana mereka hidup. Bukan hanya sekolah yang dapat membentuk karakter. Bahkan sekolah hanya sedikit sekali pengaruhnya dalam membentuk karakter anak. Ada 3 macam pendidikan yaitu pendidikan intelejensi (IQ), pendidikan emosional (EQ) dan pendidikan spiritual (SQ). Maka pendidikan karakter adalah bagian dari yang selama ini kita kenal sebagai Emotional Quotient (EQ). Seperti yang selama ini saya dapatkan bahwa dunia pendidikan Indonesia dalam hal ini sekolah hanya banyak memberi dan membangun IQ anak bukan EQ atau bahkan SQ. Jadi bagaimana bisa FDS akan membangun karakter?



Membangun IQ ini masih tertanam  dan terpatri di dalam hati dan pikiran semua elemen pendidikan yang membangun konsep pendidikan itu sendiri. Artinya semua yang bersentuhan dengan pendidikan masih berpikir bahwa pendidikan IQ adalah terpenting dan harus tercapai. Orang tua yang memiliki anak dengan IQ tinggi menjadi bangga, sehingga semua orang tua berlomba-lomba memfasilitasi anak-anak mereka dalam mencapai IQ yang tinggi dari memberi suplemen makanan sampai memilih sekolah yang favorit agar anak-anak mereka menjadi anak yang pintar dan mempunyai IQ yang baik. 

Padahal kita telah ketahui bahwa IQ hanya kecil pengaruhnya dalam kesuksesan kehidupan, ada yang lebih besar yaitu EQ dan bahkan lebih besar lagi pengaruhnya dalam kesuksesan yaitu SQ.
EQ lebih banyak didapat anak dari luar pendidikan sekolah atau yang biasa kita kenal sebagai kegiatan ekstrakurikuler dan dalam prakteknya bersosialiasi dengan masyarakat. Dalam sehari anak bersekolah untuk belajar kurikulum yang membangun IQ selama 8 jam sampai jam 14.40 atau bahkan sampai jam 15.00. Apakah setelah itu masih sempat untuk ber ekstrakurikuler untuk melatih keterampilannya seperti ingin menjadi atlet basket, sepakbola, volley, badminton atau bidang olah raga yang lain. Atau apakah setelah kegiatan sekolah masih sempat untuk berlatih teater, mencintai alam melalui kegiatan pecinta alam, berlatih jurnalistik melalui ektra broadcasting dan majalah sekolah. Pertanyaannya kalaupun masih ada waktu setelah jam 15.00 sampai jam 17.00 untuk ekstrakurikuler, masih adakah waktu mereka untuk belajar melatih SQ? Kalaupun masih ada kita paksakan untuk belajar SQ dalam hal ini mengaji mulai jam 18.00 sampai jam 19.00, lalu bagaimana waktu untuk mempraktikan semua ilmu itu tadi (IQ, EQ, SQ) dalam implementasinya di masyarakat?

Telah banyak penelitian dan survey bahkan buku yang merumuskan bahwa puncak kesuksesan seseorang bukan diukur seberapa besar IQ nya..,tetapi seberapa pandai dia dalam pemahaman SQ. Tetapi melalui kosep FDS saat ini media-media untuk melatih dan meningkatkan kemampuan SQ seperti di kebiri bahkan “skak match”. Banyak elemen pendidikan yang masih berpikir bahwa sekolah adalah untuk mencari gelar LULUS, ujung-ujungnya ya yang penting LULUS. Atau ada yang lebih baik yaitu sekolah untuk mencari ilmu dan mendapat rangking di kelas, ya pasti akan mendapat ilmu, lalu apakah jika sudah mendapat ilmu lantas itu sudah cukup? padahal puncaknya adalah kemanfaatan ilmu itu di dalam bermasyarakat dan berkehidupan.

Dari  perbandingan-perbandingan jam atau kurikulum KBM yang saya jabarkan diatas dan diterapkan di kebanyakan lembaga pendidikan/sekolah di Indonesia sesuai dengan volume tujuannya pencapainya adalah sebagai berikut:
1. 60 % untuk IQ,
2. 30 % untuk EQ,
3. 10 % untuk SQ.
Menurut saya itu terbalik, harusnya:
1. 60 % untuk SQ,
2. 30 % untuk EQ,
3. 10 % untuk IQ.

Kenapa bukan perbandingan 33.33% untuk semua elemen tersebut, karena memang adil tidak harus sama. Harus disesuaikan dengan pengaruhnya terhadap kesuksesan yang di teliti oleh pra pakar dalam buku-bukunya.

Cara berpikir yang masih mementingkan intrakurikuler masih menjadi paradigma di semua elemen pendidikan mulai dari orang tua, pendidik, dan murid pun terpengaruh dan akhirnya ikut beripikir bahwa yang paling penting adalah mencapai kesuksesaan IQ.

Kemendikbud telah lupa, bahwa orang tua dan lingkungan adalah pembentuk utama karakter anak, bukan sekolah. Kemendikbud berpikir bahwa setelah pulang sekolah siswa akan menjadi liar karena tidak ada yang mengontrol, padahal lingkungan dan masyarakat selalu mengontrol dan mengawasi mereka. Bukan suatu jaminan anak tidak menjadi liar ketika di awasi oleh pendidik di sekolah. Banyak yang karena kurangnya tenaga pendidik untuk mengawasi di sekolah akhirnya siswa kabur dari sekolah dan bahkan menjadi penipu orang tua karena membolos sekolah, lebih baik bilang jujur sedang bermain dengan teman-temannya dari pada ngakunya di sekolah padahal ada di warnet atau rental PS.

Ini hanya sedikit curahan dan pengungkapan ekspresi saya yang juga tidak setuju dengan konsep FDS. Jika ada kata atau kalimat yang menurut pembaca tidak berkenan di hati maka hanya permohonan maaf yang bisa saya sampaikan. Dan silahkan berkomentar agar kita bisa saling terbuka dan saling belajar.


EmoticonEmoticon