Ilmu Bukan Untuk Banyak Atau Sedikit

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْ


Alhamdulillah, masih bisa posting untuk saling berbagi catatan. Sekolah mungkin berhenti di tingkat menengah. Karena memang tidak semua masyarakat mampu untuk dapat melanjutkan ke bangku kuliah. Mungkin setelah kuliah juga harus mengatakan “cukup aku tidak mungkin lagi untuk melanjutkan kuliah ke jejang yang lebih tinggi lagi”, mungkin karena kondisi keuangan yang memang pas-pasan atau mungkin juga karena harus begantian dengan adek yang masih kecil dan belum selesai menuntaskan wajib belajar 9 tahun yang di wajibkan oleh pemerintah. Ada banyak sekali faktor yang memaksa seseorang pelajar mengambil keputusan untuk tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Alasan diatas adalah alasan yang mungkin masih bisa diterima karena memang ada faktor-faktor dari luar dirinya yang memaksa dia untuk tidka melanjutkan sekolah ke jenjang berikutnya. Tetapi ada alasan yang sampai sekarang tidak bisa saya terima yaitu anak dengan dengan keadaan ekonomi dalam kategori cukup bahkan lebih, tidak melanjutkan jenjang pendidikannya karena sudah merasa capek belajar, merasa pusing memikirkan tugas yang diberikan oleh guru atau dosen, merasa sudah terlalu lama belajar sejak TK-SD-SMP-SMA-dan sekarang harus kuliah lagi dan lagi. Padahal hanya untuk belajar, masalah biaya pendidikan dan kehidupan dia masih ditanggung oleh kedua orang tua atau bisa juga berpeluang untuk mendapat beasiswa dari pemerintah atau swasta karena prestasinya. Ya…its OK karena memang setiap manusia mempunyai alasannya masing dan tentunya hanya dirinya sendiri yang tahu dan menanggung resiko. Asal jangan sampai nanti setelah semua berjalan muncul kekecewaan dalam hati karena “kenapa dulu saya tidak sekolah?”

Entah karena apapun alasan untuk berhenti sekolah, jangan sampai hal itu juga menghentikan niat untuk belajar menuntut ilmu. Karena kita semua sudah tahu bahwa menjadi ilmu adalah wajib. Wajib adalah harus dilaksanakan, jika tikak berarti mendapat dosa. Dan mencari ilmu tidak mengenal usia ntah muda entah tua, enak pria entah wanita, sejak dilahirkan kita sudah harus belajar bagaimana untuk minum, makan, berjalan,hal itu terus dilakukan bahkan sampai dimakamkan pun masih harus belajar yaitu “talqin”. Kewajiban paling lama yang melekat pada manusia adalah belajar.

Didalam setiap nafas yang kita hirup ada ilmu
Didalam setiap langkah kaki kita ada ilmu
Didalam setiap bisikan yang kita dengar ilmu
Didalam setiap warna yang kita lihat ada ilmu

Tetapi sungguh rugi jika hanya mempunyai ilmu, mengutip perumpamaan yang pernah disampaikan oleh KH. Hasyim Muzadi bahwa “Ilmu itu adalah kunci, kalo sudah punya kunci tetapi tidak punya pintu lalu untuk apa punya kunci”. Nah dari ungkapan tersebut juga ditambahkan oleh beliau “Kalo udah begitu terus punya kunci, kemana-mana bawa kunci, entah jadi tukang kunci atau memang jualan kunci”. Ilmu bukan untuk jual beli tetapi harus punya pintunya yaitu kemanfaatan. Ilmu bukan hanya untuk dimiliki dalam ukuran sedikit atau banyak, Tetapi ILMU harus BERMANFAAT

Subscribe to receive free email updates:

2 Responses to "Ilmu Bukan Untuk Banyak Atau Sedikit"