Kutipan "Cerita Dua Sahabat"

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْ

Alhamdulillah, masih bisa posting untuk saling berbagi ilmu. beberapa waktu lalu saya menyaksikan acara Mata Najwa yang mengundang dua tokoh bangsa sekaligus guru bangsa yaitu KH. Ahmad Mustofa Bisri dan Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab dalam tema Cerita Dua Sahabat. ada banyak sekali hikmah yang bisa kita ambil dari obrolan-obrolan beliau-beliau, sedikit banyak saya mencoba untuk merangkum dalam blog saya ini dan mungkin ada bebera kata yang kurang atau lebih, tetapi tetap berusaha menjaga keutuhan kalimatnya.



Najwa: 
Hal apa yang membuat anda berdua begitu bersahabat dan dekat ketika kuliah di Mesir?

Gus Mus: 
Kalau beliau (Quraish Shihab) di Mesir itu mencari ilmu, kalau saya mencari kawan. Jadi saya mencari kawan yang kira-kira ilmunya bisa saya serap.

Pak Quraish: 
Yang mencari kawan itu pasti berilmu, jadi ketika kita saling bersahabat sebenarnya kita saling belajar.




Najwa:
Saya mohon Abi Quraish dan Gus Mus saling menceritakan sosok dari sahabat anda ini..

Pak Quraish: 
Gus Mus itu, yang saya kenal pertama hatinya sangat bersih, tidak pendendam, sangat halus, walaupun suka bercanda, candaanya tidak menyinggung, salah satu nasehat, janganlah menyinggung persahabatanmu dengan menyinggung sahabatmu, kami bersahabat, tapi sangat menjaga perasaaan. Gus Mus itu, kalo saya gembira beliau ikut gembira, kalau saya gundah,beliau ikut gundah. Itu Gus Mus..

Gus Mus: 
Apapun yang disampaikan Om Quraish ini, saya memanggil Om karena saya itu ada dibawahnya beliau, dibawah jauh...Om Quraish ini tekun sekali, mencintai ilmu sekali. Saya tidak kawatir bercanda, main-main dengan beliau tidak takut sama sekali, karena beliau orang berilmu. Karena orang berilmu itu salah satu ciri-cirinya bisa memaklumi jika ada orang yang khilaf, ada yang kurang.

Najwa:
Yang jelas saya tahu sekarang jarang bertemu, tetapi setiap ketemu kog masih selalu nyambung, bagai selalu ketemu, seperti ini misalnya ketika Abi Quraish berkunjung ke rembang
"Banyak yang adem melihat hubungan persahabatan antara Abi Quraish dan Gus Mus, Banyak yang bertanya apa resepnya sehingga persahabatan menjadi langgeng seperti ini?"

Gus Mus:
Ya..kalo saya resepnya masing-masing melihat kawannya itu tetep sebagai manusia, dan dia sendiri tetap menjaga kemanusiaanya contohnya seperti ini, walau beliau adalah Ahli tafsir, Profesor, Doktor, Kyai, Penulis tafsir segala macem, tetep sebagai manusia saya melihatnya. Artinya apa, ketika beliau membuat khilaf saya tetep memakluminya karena beliau manusia, meskipun beliau 'alim.

Pak Quraish:
Saya ingin tambahkan, sahabat itu adalah anda dalam sosok yang lain, kalu anda melihat sabahat itu salah, dan anda melihat diri anda sendiri, maka anda tidak akan marah, karena anda sendiri jugakan bisa salah. Sahabat itu bisa diibaratkan garis lurus yang berdampingan, berjalan seiring, tidak ada yang mau di depan dan tidak ada yang mau ketinggalan, alasannya kalo saya didepan saya takut keliru nanti kamu akan ikut keliru. Kalo saya dibelakang, saya takut tidak bisa mengikuti kamu. Jadi berjalan seiring, begitulah sahabat. Nah..begitu ada kepentingan-kepentingan pribadi maka persahabatan putus, jadi kalaupun kita berbeda itu tidak masalah. Saya tidak jarang berbeda dengan Gus Mus,

Najwa:
Apa contohnya Abi?

Gus Mus:
Perbedaan yang jelas itu, sejak dari Mesir. Saya tadi udah mengatakan berulang kali, beliau itu tekun sekali...Perbedaan mencolok sekali dengan saya. Saya disana maen-maen, beliau belajar. khan ini beda jauh, nah kenapa kita bisa ketemu karena kadang-kadang beliau suka maen. Jadi kalau beliau maen bola, itu samben saja ketika beliau jenuh melihat kitab-kitab, baru beliau maen bola. Kalo Saya karena pekerjaannya maen bola. Kadang-kadang aja lihat buku, gitu hlo..

Pak Quraish:
Tapi itu menunjukkan bahwa Gus Mus itu sangat cerdas. Coba lihat ..maen aja bisa LULUS...

Najwa:
Perbedaan disaat sekarang gak ada Abi?

Pak Quraish:
Tentu ada.., salah satu yang saya sangat tidak setuju, sewaktu Gus Mus ditawari jabatan yang sangat penting tetapi beliau tolak. Saya katakan saya tidak setuju..! anda salah ! kita bisa beda pendapat tapi persahabatan tetap ada. Tidak ada dua orang walau dia bersaudara kembar yang seratus persen sama. Pasti ada perbedaan

Najwa:
Waktu Abi tidak setuju ketika Gus Mus menolak jabatan..,Gus Mus marah waktu itu?

Gus Mus:
Yaa..itu kan pendapat beliau, saya hargai lah sebagai pendapatnya, tapi saya menghargai pendapat saya sendiri kan..

Najwa:
Kalo Gus Mus pernah ada yang berbeda?

Gus Mus:
Pernah, pernah dulu waktu masih di Kairo, saya tidak menentang, hanya bertanya-tanya. Karena beliau itu... tadi saya katakan beliau itu lebih 'alim jadi ketika beliau ngomong itu saya dengarkan, kalo saya tidak setuju ga berani ngomong saya..saya batin saja. Beliau pernah mempunyai pendapat bahwa Al-Quran itu tidak boleh diterjemahkan, tapi pada waktu itu kan ibaratnya beliau sudah perguruan tinggi saya masih SMP, jadi saya mikir-mikir ini gimana kog..nanti saya taunya bagaimana..Al-Quran kog tidak diterjemahkan. Ternyata sekarang ini saya mendukung sekali pendapat beliau, entah beliau sudah menarik pendapatnya atau tidak, saya mendukung pendapatnya yang dulu itu., Sekarang banyak orang yang melihat Al-Quran terjemahan Depag, lalu berfatwa..maka kekacauan itu terjadi di Indonesia ini. gara-gara itu...Dia bolak-balik bilang kembali ke Quran, kembali ke Quran, ternyata kembali ke Quran yang terjemahan Depag. Jadi bagaimana ini... Kembali ke Al-Quran itu yaa NGAJI..Ke baitul Quran..Ke pusat studi Quran....
Jadi tidak bisa.. orang hanya melihat Al-Quran Depag saja..harus NGAJI

Anda membaca Al-Misbah saja masih pusing, bayangkan orang awam, orang awam disuruh ke Al-Quran sendiri..itu BAHAYA sekali..apalagi kalo orang itu sudah mengaku bukan orang awam..mengaku Ustad atau mengaku Kyai..


Najwa:
Berbahaya Abi?

Pak Quraish:
Ya..sangat berbahaya, karena bisa menimbulkan pertentangan, kita dalam sekian sejarah kita, terjadi pertentangan-pertentangan karena tidak ada toleransi sebenarnya ketika kita membaca ayat-ayat Al-Quaran, Ayat-ayat Al-Quran itu bisa di ibaratkan seperti berlian. Kalo anda dari sudut sini maka anda melihat berlian akan memancarkan cahaya yang berbeda jika anda berpindah ke tempat lain, cahaya nya berbeda. Ada diantara kita yang mau tafsirnya ini..hanya ini..padahal ada arti lain. kalo satu orang melihat gajah lantas dia berkata itu binatang yang besar..itu benar.,yang satu berkata gajah memiliki belalai...,itu juga benar. Kebenaran itu bisa beragam, kesalahan kita dalam memahami kitab suci atau Agama hanya menganggap satu yang benar, padahal tuhan tidak bertanya 5+5 berapa..karena jawabannya hanya satu yaitu 10, tetapi tuhan bertanya 10 adalah berapa ditambah berapa? 7+3 atau 8+2..ini yang harus kita hayati, kita ajarkan supaya tidak timbul sikap yang menimbulkan perpecahan atau pertentangan, jadi jangan menganggap hanya ini yang benar.


Najwa:
Soal Islam moderat, Islam yang mementingkan moderasi, jalan yang ditengah. Cuma sekarang problemnya,Abi..problemnya, Gus Mus..., semua orang merasa ditengah, yang dikanan merasa moderat, yang di kiri merasa moderat.., sesungguhnya yang moderat yang di tengah itu siapa dan bagaimana?

Gus Mus:
Ngukur seberapa dalam air sungai, jangan pakai tubuh kita. Karena kalao pakai tubuh kita yang jangkung maka akan mengatakan ini dangkal sekali, kalo kita cebol kita akan mengatakan ini dalam sekali. Jadi pakai apa?..Pakai ukuran, misal 80 cm..sudah selesai dan tidak ada pertentangan. Kita sekarang itu mengukur sesuatu dengan diri sendiri, tidak pakai ukuran. Katanya Al-Quran sebagai ukuran, tapi tidak mau perbedaan..kalo melihat Al-Quran, melihat pemimpin isalam kanjeng Rosul Muhammad SAW, Moderat itu lah Isalam, jadi bukan Islam moderat..ISLAM tu memang MODERAT!!, jangan Islam yang moderat... lalu Islam apalagi..bukan Islam itu..tapi Islam itu ya Moderat itu. Kalau tidak moderat..tidak Islam

Semua yang ekstrim, yang berlebih-lebihan itu dilarang di Al-Quran. Harus ditengah-tengah. Kalo kita di tengah-tengah akan enak..Kita orang hidup ini mempunyai apa yang di namai Athifah (perasaan), Athifah itu sendiri sebetulnya mempunyai karakter yang bergerak ke kanan kekiri, kalo kita berlebihan, maka akan condong ke kanan..misalnya kalo senang, kalo terlalu benci kita akan condong ke kiri. Sedangkan adil iti di tengah, tegak dan jejeg (berdiri tegak). Sampe ada dawuhnya Allah SWT "Jangan sekali-kali kebencianmu kepada suatu kaum, membuatmu tidak adil" Kaum disini diartikan kaum orang kafir. Kalo orang kafir saja..kalo kita benci..kita tidak boleh tidak adil..Apalagi kita sesama mukmin sesama orang islam. Kebencian kita tidak boleh menjadikan kita tidak adil.

Kalo orang berlebih-lebihan tidak bisa ditengah-tengah, saya bisa pastikan dia tidak akan bisa adil dan tidak  bisa istiqomah yang di anjurkan oleh Islam itu sendiri

Najwa:
Abi, menyambung penyataaan Gus Mus tadi, ada istilah yang lagi populer "kafir", rasanya sekarang kata kafir itu ringan sekali di ucapkan, gampang sekali mengkafirkan, orang kafir itu siapa abi?, siapa sih yang kafir itu, kog ngetop sekali kafir ini?

Pak Quraish:
Kesulitan kita tuh, terkadang hanya memahami satu kata dengan satu makna, kata kafir misalnya itu maknanya banyak sekali, kafir bisa berarti yang mengingkari agama, mengingkari Islam Aqidahnya, kafir bisa berarti yang tidak sholat walau bersyahadat, kafir bisa berarti munafik, kafir bisa berarti kikir, kafir pada dasarnya berarti menutup kalo anda menutup kebenaran maka anda kafir. kalo anda menutup uang anda sehingga berkata saya tidak punya uang padahal ada (kafir). ketika kita membaca suatu kata kafir dalam Al-Quran..hati-hati menafsirkannya. Bisa jadi orang itu mengucapkan dua kalimat syahadat tetapi dia durhaka, bisa jadi dia kafir....Jadi kafir itu banyak makna. tetapi karena secara umum orang memahami kafir itu adalah keluar dari Islam maka datang larangan Nabi, "Jangan mengkafirkan orang...,siapa yang mengkafirkan sesorang, padahal orang tidak kafir, maka tuduhannya kembali kepadanya, dia di nilai tuhan, kafir"

Najwa:
Soal intolerensi, soal bagaimana kita bisa hidup bersama ditengah perbedaan yang dulu sepertinya bukan persoalan serius atau mungkin saja dulu tidak pernah dihadapkan kepada situasi yang saat ini kita alami sama-sama, bagaimana kuncinya untuk menjaga itu, bagaimana untuk tetap toleran, bagaimana teteeap bisa terbuka terhadap perbedaan yang ada?

Gus Mus:
Yaa..Kalo orang Islam yang mengikuti kanjeng Nabi, kalo orang islam mengikuti Rasululloh SAW, pemimpin agungnya, sudah ..dia toleran.

Pak Quraish:
dan...Kanjeng Nabi itu seringkali membenarkan dua atau lebih pendapat yang berbeda-beda, semuanya benar. karena kita tidak bisa hidup tanpa perbedaan, suami istri aja bisa beda kog, saudara aja bisa beda kog, maka agama mengatakan..cari titik temu, Kalau kita sebagai bangsa sudaha ada titik temunya, dulu ada yang mau negara kita ini sekuler, ada yang mau negara Agama, kita punya titik temu yaitu Pancasila, itu yang Agama bisa melaksanakan agamanya sesuai dengan ini, yang ini bebas semua dengan pendapatnya salama dalam koridor ini, Agama begitu..

Gus Mus:
Intinya Ilmu ya.., jadi kalo orang itu tidak ngerti  tapi mencari tau.. itu lebih baik, maka saya selalu mengatakan, Mbuk belajar terus..jangan berhenti belajar...

Najwa:
Tetapi ada yang merasa begini, saya ini membela keyakinan, saya membela agama, saya membela ulama,?

Gus Mus:
Hla iya kalo membela keyakinan, silahkan belajar tentang keyakinan anda..kenal tidak dengan pembawa keyakinan ini, kenal ga sama Rasululloh, mengenal Rasululloh harus pakai ilmu.

Najwa:
Saya jadi ingat dengan Tweet an nya Gus Mus,




Gus Mus:
Jadi nabi itu bersabda, Selama orang itu masih belajar, orang itu pandai, begitu dia berhenti belajar, mulailah dia bodoh. ketika orang itu berhenti belajar karena merasa pandai mulailah dia bodoh. jadi kalau orang tetep belajar masih tetep diharapkan lah..yang menjadi masalah ini adalah tidak mau belajar terus, padahal belajar itu... terus.

Najwa:
Ulama ketika bersyiar, kalau mengikuti kanjeng nabi, Syiarnya seperti apa?

Pak Quraish:
Syiar itu ada yang berkata  berasal dari kata syu'ud (perasaan), hidayah itu kalo kita menyampaikan dakwah menyampaikan dakwah, menyampaikan ajaran, itu mengajak orang mendapatkan hidayah..., hidayah itu seakar dengan hadiah,hadiah itu dikemas dengan baik,dibungkus dengan indah, isinya baik,...tidak di lempar begitu saja..itu berdakwah..begitu, Nah salah satu kelemahan saya, saya pendakwah..sering emosi..emosi yang berlebih-lebihan itu bahaya, menggebu-gebu diatas mimbar, lupa diri..itu bahaya...bisa kepleset lidah...emosi yang berlebihan itulah yang mengantar orang menuju ekstrimisme, kita harus sampaikan yang halus, lemah lembut..yang santun.

Najwa:
Gus, tadi kan Abi sering emosi..,Gus Mus setuju kalo Abi itu dakwah sering emosi? 

Gus Mus:
Ya..mungkin dulu lah..dulu ya dulu..sekarang kan tambah tua tambah santai..
Jadi dakwah itu kan mengajak, mengajak itu bernuansa merayu, bernuansa bujuk, kalo ingin tahu dakwah yang baik itu ke terminal, ya..lihat calo-calo bis itu..dakwahnya luar biasa.., "Ayo sini bisnya baru..full AC..ada karaokenya.." tidak lalu "AAYO MASUK BIS INI.,NGGAK MASUK TEMPELENG!" bukan begitu.


Najwa:
Gus mus mau tanya soal Agama dan Politik, Agama yang dibawa dalam mimbar pertarungan politik yang kemudian panasnya tidak hilang-hilang malah tambah naik disesuaikan dengan kostelasi politik yang terjadi, saya ingat..Gus Mus pernah bilang.."Berani sekali Allah di suruh urus pilkada" ? 

Gus Mus:
ya..Itu kan keterlaluan.., Pilkada itu apa sih..? Anda berkali-kali mengatakan "Allahu Akbar" itu anda kira Allah seberapa besar? Apa sama besar masjid Akbar di Surabaya itu? apa sama dengan rapat akbar, pengajian akbar, anda buka youtube tulis disana kuncinya "bumi" nanti anda akan tahu seberapa besar bumi yang kita tinggali ini, dan seberapa alam semesta ciptaannya ini, lalu seberapa besar yang menciptakan semua ini, bumi ini kecil sekali, kalo di peta alam semesta bumi ini hanya 1 butir kacang hijau, salah disalahkan dengan ilmuwan yang tahu "itu terlalu gedhe, paling gedhe itu sebutir debu" nah kalo sebutir debu..lalu bagaimana saya bisa menjelaskannya kepada teman-teman saya..tak gedhe in sedikit lah..jadi sebutir kacang hijau. Sekarang pertanyaanya "Dimana DKI didalam kacang hijau itu? dimana TPS-TPS itu didalam kacang hijau? maka kalau kita mengucapkan Allahu Akbar dan kita belum bisa mengecilkan diri kita sendiri..kita belum menghayati Allahu Akbar..kecuali untuk demo saja.

Najwa:
Jadi harus rendah hati..?

Pak Quraish:
Harus rendah hati..harus rendah hati..siapapun yang anda hadapi..orang yang lebih rendah dari anda..itu bisa jadi mempunyai pengetahuan yang anda tidak tahu..Profesor, banyak hal yang dia tidak tahu, boleh jadi pembantu dirumah/sopir lebih pandai dari dia, dia harus rendah hati. Kita itu diciptakan dari bumi tanah supaya kita rendah hati, Iblis itu tercipta dari api..,merasa dirinya tinggi..kita dari tanah, tanah walaupun di injak-injak tetapi menumbuhkan tumbuhan, manusia begitu..semakin rendah hati, semakin terbuka hatinya untuk menerima kebenaran dan memancarkan cahaya, mutlak itu.


EmoticonEmoticon