Budaya Jawa Telah Menjaga Bulan Asyura

Assalamu’alaikum wr wb

Bukan hal yang aneh jika banyak anak muda dan bahkan intelektual kampus yang menanyakan tentang sakral nya bulan Muharram dalam budaya Jawa. Ada banyak kegiatan yang dilarang dan banyak kegiatan yang dianjurkan secara “kejawen”. Ada warisan dari orang tua kita yang menjadi perdebatan kaum muda dan intelektual-intelektual kampus yaitu dilarangnya mengadakan pesta penikahan di bulan syura karena dianggap tabu. Ada juga kegiatan yang dianjurkan yaitu “selametan” agar anggota keluarga tidak terkena sial.



Adalah kecerdasan orang tua kita, kakek nenek moyang kita orang jawa yang melihat kemuliaan bulan muharram, ternyata tidak mampu dipahami oleh masyarakat jawa yang tidak njawani (tidak mengerti budaya jawa). Sehingga muncul opini bahwa orang-orang yang mempercayai warisan budaya itu adalah termasuk orang yang sesat dan jauh dari Islam. Padahal dari warisan itu sebenarnya ada makna yang dalam dan sangat sesuai dengan anjuran agama Islam. Dalam tulisan saya kali ini, saya akan mencoba untuk mengupas kulit luar dari pemahaman mentah intelektual muda sekarang yang melihat bahwa warisan nenek moyang itu adalah sesat.

1.       Menjawab pertanyaan, mengapa bulan syura dilarang atau tabu mengadakan pesta pernikahan?

Dalam budaya Jawa, adalah hal yang tabu atau tidak pantas jika kita mengadakan kegiatan pesta pernikahan. Sesepuh jawa ternyata tidak dengan mudah menyimpulkan bahwa di bulan asyura tabu atau bahkan dilarang mengadakan pesta pernikahan. Ada makna yang tersembunyi dari kepercayaan itu bahwa sesepuh jawa menganggap bahwa bulan asyura (muharram) adalah bulan yang mulia sehingga hendaknya di isi dengan amalan-amalan yang baik, tidak mengumbar hawa nafsu, menghidari kegiatan-kegiatan yang dapat mengundang diri ke dalam kemaksiatan. Karena tidak jarang didalam pesta pernikahan, banyak sekali kegiatan yang tidak mendekatkan diri kepada Allah tetapi malah identik menjauhkan diri dan mendekatai kemaksiatan. Seperti  minum-minuman keras, berjudi, berfoya-foya, hal itu sungguh sangat dekat dengan hawa nafsu. Maka dari itu sesepuh Jawa menyarankan untuk tidak mengadakan pesta ataupun kegiatan yang dapat mengumbar hawa nafsu. Karena sesepuh jawa kawatir kemulian bulan muharram akan ternodai dengan adanya yang bermaksiat.

2.       Menjawab pertanyaan, mengapa di setiap hari lahir (pasaran jawa) diadakan bancakan (bahasa jawa syukuran)?

Selain larangan diatas, ada juga anjuran sesepuh Jawa yang menjadi perbincangan di kalangan orang yang hanya melihat amalan dari hanya kulitnya, yaitu adanya budaya “selamatan” yang katanya hanya sia-sia belaka. Sesepuh Jawa telah menganjurkan untuk mengadakan berbagi makanan dan bersodaqoh makanan kepada tetangga melalui kegiaran “bancakan” (bahasa jawa selamatan) pada hari lahir menurut pasaran jawa. Karena sesepuh jawa telah mengerti bahwa bulan mulia ini haruslah di isi dengan amalan-amalan yang baik. Para sesepuh sudah membaca bahwa sulit bagi kita untuk berbagi dan bersodaqoh dengan tetangga, maka dari itu melalui budaya Jawa tersebut kita di bantu untuk menggerakkan hati untuk bersodaqoh kepada tetangga.


Sebenarnya larangan dan anjuran budaya jawa diatas bukan suatu keharusan untuk dilakukan, tetapi yang harus kita ketahui dan terapkan adalah nilai yang terkandung didalam budaya warisan kakek-nenek moyang kita. Jangan hanya menganggap bahwa warisan budaya itu jauh dari syariat Islam. Sehingga kita menyesatkan kaum yang melakukan budaya tersebut. Ada nilai yang jauh memiliki arti yang mungkin kita tidak bisa membaca karena kebodohan kita. Cukup sekian tulisan hari ini, tulisan ini muncul karena banyaknya orang yang menganggap bahwa budaya jawa itu sesat dan jauh dari ajaran Islam. Semoga bermanfaat ya.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Budaya Jawa Telah Menjaga Bulan Asyura"

Post a Comment