Sia-Sia


Sungguh mata kepalaku telah tertipu
Apa yang terlihat hanya sebatas rasa
Rasa yang hanya lewat begitu saja
Tanpa pernah singgah untuk selamanya

             Ketika nampak telah menjadi rasa
             Ketika rasa telah menjadi nyata
             Ketika nyata telah menjadi hampa
             Disitu hanya Engkau yang terlihat
            
Pernah aku berharap pada dunia
Kulangkahkan kaki tuk menggapainya
Aku larut dalam keindahan mimpi
Dan lupa bahwa manusia hanya berencana

             Ketika ingin menjadi sebuah rencana
             Ketika rencana menjadi langkah
             Ketika langkah berubah menjadi asa
             Ada kuasaMu yang meyakinkanku pada takdirmu

Apa yang jelas terlihat 
Bukanlah seperti apa yang terlihat
Kekosongan hati telah membawa diri ini
Untuk lari dari kenyataan

             Ketika terang menjadi gelap
             Ketika hangat menjadi dingin
             Ketika gaduh menjadi sunyi dan hening
             Akupun tersungkur pada sujudku padaMu

Berebut Benar


Assalamualaikum kang, mas, mbak, yu..
Teringat ketika duduk makan siang bersama kawan-kawan di Pondok Pesantren Walisongo Sragen ada obrolan biasa yang luar biasa. Ketika di luar sana dan bahkan termasuk diri saya sendiri melakukan kegiatan yang sering dilakukan anak-anak yaitu “berebut”. Hanya saja yang akan saya bicarakan bukanlah tentang berebut mainan mobil-mobilan, pistol-pistolan atau makanan tetapi perebutan “benar” dan “salah” dari suatu pendapat atau opini yang muncul di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara atau bahkan pendapat dan opini dalam kehidupan beragama.

Di era demokrasi Indonesia saat ini sangat mudah sekali organisasi, golongan dan bahkan seorang pribadi menyampaikan pendapatnya. Hal itu karena ketersediaan media yang digunakan untuk saling berkomunikasi juga semakin banyak, mulai dari media sosial internet, lembaga dan organisasipun menjadi penyedia media komunikasi melalui event-event yang mereka selenggarakan. Kemampuan smartphone dalam mengakses internet dan social network pun semakin mudah dan terbuka. Semua itu adalah bagian dari perkembangan teknologi.

Opini dan pendapat yang muncul dari pribadi dan golongan tentu ada yang sesuai dengan pemikiran sebagian orang dan ada yang tidak sesuai dengan sebagian orang yang lain. Hal ini tentu memicu terjadinya perbedaan pendapat. Ada yang beranggapan bahwa pendapat golongan X adalah benar dan ada yang menganggap pendapat golongan Y lah yang benar. Tentu masing-masing memiliki argumen dan dasar pemikiran yang membuat mereka berfikir bahwa pendapat yang mereka anggap benar itu adalah yang benar. Hal itu bukanlah hal yang dilarang karena jelas undang-undang Nomor 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Mengeluarkan Pendapat di Muka Umum Dalam pasal 1 ayat (1), undang-undang tersebut menyatakan bahwa

“Hak setiap warga negara untuk menyampaikan pikiran dengan lisan, tulisan, dan sebagainya secara bebas dan bertanggung jawab sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.”

Didalam undang-undang tersebut telah disebutkan bahwa setiap warga negara memiliki hak untuk berpendapat baik secara lisan, tulisan dan sebagainya secara bebas dan beratanggung jawab. Lalu apa yang menjadi permasalahan ketika seseorang berpendapat?

Yang menjadi permasalahan bukanlah “berpendapat” nya, melainkan adalah menganggap “pendapat” nya atau “golongan” nya yang paling benar. Hal semacam ini yang memicu pribadi atau golongan untuk saling berebut kebenaran.
Ketika itupun kita dalam meja makan saling berandai-andai.

“andai saja kita bisa berebut “salah” bukan berebut “benar”.

terakhir dan sebagai penutup tulisan ku hari ini

“Aku yang Salah”


Semoga bermanfaat yaa....

FALSAFAH RONGGO WARSITO


Rejeki iku ora iså ditiru
(REJEKI ITU TIDAK BISA DITIRU)
Senajan pådå lakumu
(WALAU JALANMU SAMA)
Senajan pådå dodolan mu
(WALAU JUALANMU SAMA)
Senajan pådå nyambut gawemu
(WALAU PEKERJAANMU SAMA)
Kasil sing ditåmpå bakal bedå2
(HASIL YANG DITERIMA AKAN BERBEDA SATU SAMA LAIN)
Iså bedå nèng akèhé båndhå
(BISA LAIN DALAM BANYAKNYA HARTA)
Iså ugå ånå nèng Råså lan Ayemé ati, yaiku sing jenengé bahagia
(BISA LAIN DALAM RASA BAHAGIA DAN KETENTERAMAN HATI)
Kabèh iku såkå tresnané Gusti kang måhå kuwåså
(SEMUA ITU ATAS KASIH DARI TUHAN YANG MAHA KUASA)
Såpå temen bakal tinemu
(BARANG SIAPA BER-SUNGGUH2 AKAN MENEMUKAN)
Såpå wani rekåså bakal nggayuh mulyå
(BARANG SIAPA BERANI BERSUSAH PAYAH AKAN MENEMUKAN KEMULIAAN)
Dudu akèhé, nanging berkahé kang dadèkaké cukup lan nyukupi
(BUKAN BANYAKNYA, MELAINKAN BERKAHNYA YANG MENJADIKAN CUKUP DAN MENCUKUPI)
Wis ginaris nèng takdiré menungså yèn åpå sing urip kuwi wis disangoni såkå sing kuwåså
(SUDAH DIGARISKAN OLEH TAKDIR BAHWA SEMUA YANG HIDUP ITU SUDAH DIBERI BEKAL OLEH YANG MAHA KUASA)
Dalan urip lan pangané wis cemepak cedhak kåyå angin sing disedhot bendinané
(JALAN HIDUP DAN REJEKI SUDAH TERSEDIA, DEKAT, SEPERTI UDARA YANG KITA HIRUP SETIAP HARINYA)
Nanging kadhang menungså sulap måtå lan peteng atiné, sing adoh såkå awaké katon padhang cemlorot ngawé-awé, nanging sing cedhak nèng ngarepé lan dadi tanggung jawabé disiå-siå kåyå orå duwé gunå
(TETAPI KADANG MANUSIA SILAU MATA DAN GELAP HATI, YANG JAUH KELIHATAN BERKILAU DAN MENARIK HATI.. TETAPI YANG DEKAT DIDEPANNYA DAN MENJADI TANGGUNG JAWABNYA DISIA-SIAKAN SEPERTI TAK ADA GUNA)
Rejeki iku wis cemepak såkå Gusti, ora bakal kurang anané kanggo nyukupi butuhé menungså såkå lair tekané pati
(REJEKI ITU SUDAH DISEDIAKAN OLEH TUHAN, TIDAK BAKAL BERKURANG UNTUK MENCUKUPI KEBUTUHAN MANUSIA DARI LAHIR SAMPAI MATI)
Nanging yèn kanggo nuruti karep menungså sing ora ånå watesé, rasané kabèh cupet, nèng pikiran ruwet, lan atiné marahi bundhet
(TETAPI KALAU MENURUTI KEMAUAN MANUSIA YANG TIDAK ADA BATASNYA, SEMUA DIRASA KURANG MEMBUAT RUWET DI HATI DAN PIKIRAN)
Welingé wong tuwå, åpå sing ånå dilakoni lan åpå sing durung ånå åjå diarep-arep, semèlèhké lan yèn wis dadi duwèkmu bakal tinemu, yèn ora jatahmu, åpå maneh kok ngrebut såkå wong liyå nganggo cårå sing ålå, yå waé, iku bakal gawé uripmu lårå, rekåså lan angkårå murkå sak jeroning kaluwargå, kabeh iku bakal sirnå balik dadi sakmestiné
(PETUAH ORANG TUA, JALANILAH APA YANG ADA DIDEPAN MATA DAN JANGAN TERLALU BERHARAP LEBIH UNTUK YANG BELUM ADA. KALAU MEMANG MILIKMU PASTI AKAN KETEMU, KALAU BUKAN JATAHMU, APALAGI SAMPAI MEREBUT MILIK ORANG MEMAKAI CÀRA TIDAK BAIK, ITU AKAN MEMBUAT HIDUPMU MERANA, SENGSARA DAN ANGKARA MURKA. SEMUA ITU AKAN SIRNA KEMBALI KE ASALNYA)
Yèn umpåmå ayem iku mung biså dituku karo akèhé båndhå dahnå rekasané dadi wong sing ora duwé
(KALAU SAJA KETENTERAMAN ITU BISA DIBELI DENGAN HÀRTA, ALANGKAH SENGSARANYA ORANG YANG TIDAK PUNYÀ)
Untungé ayem isà diduwèni såpå waé sing gelem ngleremké atiné ing bab kadonyan, seneng tetulung marang liyan, lan pasrahké uripé marang GUSTI KANG MURBENG DUMADI
(UNTUNGNYA, KETENTERAMAN BISA DIMILIKI OLEH SIAPA SAJA YANG TIDAK MENGAGUNGKAN KEDUNIAWIAN, SUKA MENOLONG ORANG LAIN DAN MENSYUKURI HIDUPNYA).

Ketika berziarah ke Makam Raden Ronggo Warsito bersama Ponpes Walisongo Sragen
Siapa Raden Ngabehi Ronggo Warsito Itu?

Memiliki nama asli Bagus Burhan, Lahir di Surakarta 15 Maret 1802, wafat di Surakarta 24 Desember 1873 pada umur 71 tahun. Beliau adalah pujangga besar budaya Jawa yang hidup di Kasunanan Surakarta. Ia dianggap sebagai pujangga besar terakhir tanah Jawa. Baliau 
adalah putra dari Mas Pajangswara (juga disebut Mas Ngabehi Ranggawarsita. Ayahnya adalah cucu dari Yasadipura II, pujangga utama Kasunanan Surakarta.

Ayah Bagus Burhan merupakan keturunan Kesultanan Pajang sedangkan ibunya adalah keturunan dari Kesultanan Demak. Bagus Burhan diasuh oleh Ki Tanujaya, abdi dari ayahnya.

Lebih lengkap tentang Raden Roggo warsito bisa di baca di

https://id.wikipedia.org/wiki/Rangga_Warsita

Semoga Bermanfaat

Pakai Batik Berarti Ikuti Kanjeng Nabi Muhammad

Gus Dur berbaju batik mencium tangan KH Turaichan Adjhuri


Jakarta, NU Online 
Mustasyar PBNU KH A. Mustofa Bisri pernah mengatakan, dewasa ini, umat Indonesia cenderung mengenakan pakaian gaya Arab; berjubah putih, berserban, dan memelihara jenggot. Mereka menyangka, yang demikian itu merupakan salah satu ittiba’ (mengikuti jejak) Nabi Muhammad. 

“Mereka kira, pakaian yang mereka pakai itu pakaian Kanjeng Nabi. Padahal, jubah, serban, sekalian jenggotnya, itu bukan pakaian Kanjeng Nabi. Abu Jahal juga begitu, karena itu pakaian nasional Arab,” ungkap kiai asal Rembang, Jawa Tengah ini. 

Kiai yang akrab disapa Gus Mus itu menegaskan bahwa Kanjeng Nabi sangat menghormati tradisi tempat tinggalnya. Buktinya ia memakai pakaian Arab. Nabi tidak membikin pakaian sendiri untuk menunjukkan bahwa dia Rasulullah. 

“Seandainya, ini seandainya, kalau Rasulullah itu lahir di Texas, mungkin pake jeans,” ujar kiai yang pelukis dan penyair ini, disambut tawa hadirin pada pengajian di Mata Air, Jl Mangunsarkoro, Menteng, Jakarta, Rabu 26 Oktober 2011 lalu. 

“Makanya Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid), saya, make pakaian sini (Jawa); pake batik,” ujarnya sambil menunjuk baju yang dikenakannya: batik coklat motif bunga berbentuk limas berwarna hitam. 

“Ini, ittiba’ Kangjeng Nabi. Ya begini ini, bukan pake serban, berjenggot. Itu ittiba’ Abu Jahal juga bisa. Tergantung mukanya,” tegasnya.

Gus Mus menegaskan, jadi, perbedaan antara Abu Jahal, Abu Lahab dengan Kanjeng Nabi adalah air mukanya, bukan pakaiannya. Kanjeng Nabi itu wajahnya tersenyum, Abu Jahal wajahnya sangar. Kalau ingin iitiba’ Kanjeng Nabi, pake serban pake jubah, wajah harus tersenyum.

Gus Mus lalu mengisahkan, pada zaman Nabi, kalau ada sahabatnya yang sumpek, mempunyai beban, ketemu Kanjeng Nabi, melihat wajahnya, hilang sumpeknya. “Sekarang ini, nggak. Pakaiannya aja yang sama. Kita nggak sumpek, nggak apa, lihat wajahnya malah sumpek,” pungkasnya. 

Senada dengan Gus Mus, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj bersyukur bahwa batik, salah satu khas pakaian Indonesia masih bertahan walaupun memasuki era digital. 

“Alhamdulillah kita dijajah Belanda selama 350 tahun, batik tidak hilang,” kata Kiai Said Aqil Siroj saat ditanya komentar tentang Hari Batik Nasional ketika ditemui NU Online di ruangannya, gedung PBNU, Jakarta, Kamis 2 Oktober 2014.

Menurut kiai asal Cirebon tersebut, batik adalah ciri khas Indonesia yang unik dan mengandung filosofi daerah dimana ia dibuat. Seperti batik Yogya, Cirebon, Solo, Pekalongan, dan daerah memiliki filosofinya masing-masing. 

“Orang dulu membuat motifnya itu tidak sembarangan. Apalagi yang batik tulis. Konon katanya ketika akan membatik itu ada yang tirakat dulu sebab ada yang sampai dua tahun. Konon begitu yang batik tulis. Itu untuk keberkahan,” katanya menjelaskan.  

Ia menyebut juga bahwa orang yang membatik bukan hanya semata-mata mencari materi atau uang, tapi mempertahankan jati diri karena soal uang itu tak setimpal dari daya ciptanya. 

Menjadi warga negara Indonesia, menurut Kia Said adalah amanat dari Allah SWT. “Saya jadi orang Indonesia bukan pilihan. Tiba-tiba Tuhan menghendaki saya jadi orang Indonesia, itu kan anugerah, amanah dari Tuhan,” tegasnya.

Batik, kata dia adalah produk budaya manusia Indonesia. Sedangkan budaya adalah pembeda antara manusia dengan binatang. Sebelum lahir, seseorang sudah berada dalam budaya tertentu dalam aturan tata cara pakaian dan tata cara hidup tertentu.

Lebih jauh Kiai Said mengatakan orang Indonesia orang yang berpakaian Arab tidak ada hubungannya dengan kedalaman keberagamaan seseorang. Karena di zaman Rasulullah saja yang menggunakan pakaian seperti itu adalah Abu Jahal dan Abu Lahab. 

Dalam Islam, sambung Kiai Said, yang penting dalam berpakaian itu menutup aurat. “Mau sarung, kain, jilbab, kebaya, sari India, celana asal tidak terlalu ketat, yang penting menutut aurat. Adapun jika budaya bertabrakan dengan Islam, maka Islam meluruskan. Yang tidak bertabrakan, kita pertahankan,” tegasnya.  

UNESCO mengakui batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia. Tanggal 2 Oktober ditetapkan sebagai Peringatan Hari Batik Nasional melalui Penerbitan Kepres No 33, 17 November 2009. Selamat Hari Batik.(Abdullah Alawi)

Sumber: www.nu.or.id

Ketika Gus Dur Ditanya soal Konsep Negara Islam



Di era 1970-an hingga 1980-an, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur terus mengalirkan banyak gagasan tentang Islam dan kebangsaan, Islam dan budaya, Islam dan demokrasi, serta memasyhurkan gagasan pribumisasi Islam dan pesantren sebagai sub-kultur.

Tulisan-tulisan Gus Dur tentang tema-tema substantif itu menghiasi sejumlah media cetak, baik koran maupun majalah. Hingga suatu ketika Gus Dur diundang oleh Arief Budiman untuk menjadi pembicara utama di sebuah forum ilmiah.

Dalam forum yang didampingi Matori Abdul Djalil tersebut, Gus Dur menguraikan satu per satu konsep negara yang pernah ada dalam sejarah. Presiden ke-4 RI ini juga menyampaikan kelebihan serta mengkritik kekurangan masing-masing konsep tersebut.

Tibalah saatnya ketika Gus Dur menyampaikan kesimpulan, mana sesungguhnya konsep negara yang baik menurut Islam. Namun ternyata, hadirin yang berisi para pakar dan akademisi dibikin bingung karena Gus Dur dinilai kurang clear dalam menjelaskan konsep negara, yaitu negara Islam.

Gus Dur sama sekali tidak menyinggung perihal konsep negara Islam. Hal ini membuat Matori deg-degankhawatir Gus Dur diberondong pertanyaan oleh para pakar yang hadir.

Apa yang dikhawatirkan Matori betul terjadi. Sebab salah satu hadirin bertanya kepada Gus Dur, lantas apa yang dimaksud dengan konsep negara Islam?

Semua kolega Gus Dur termasuk Gus Mus yang hadir dalam forum tersebut dibawa penasaran dengan menunggu jawaban cucu Pendiri NU, Hadlratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari itu.

Ternyata dengan santainya Gus Dur menjawab, “itu yang belum aku rumuskan,” seloroh Gus Dur diplomatis. Sontak seluruh hadirin yang memadati forum ilmiah tersebut dibuat ngakak dan terpingkal-pingkal oleh jawaban Gus Dur.

Sejatinya Gus Dur ingin mengatakan bahwa konsep negara Islam tidak pernah ada. Islam hanya menawarkan nilai-nilai luhurnya untuk mengisi setiap sendi perpolitikan, perekonomian, kebudayaan, seni, dan lain-lain. “Islam tidak pernah dikerek menjadi bendera,” kata Gus Dur dalam sebuah tulisannya. (Fathoni)

Cerita ini disarikan dari buku “Gus Dur dalam Obrolan Gus Mus” karya KH Husein Muhammad (Noura Books, 2015).

Sumber: www.nu.or.id

Server

More »

Catatan

More »