Berebut Benar


Assalamualaikum kang, mas, mbak, yu..
Teringat ketika duduk makan siang bersama kawan-kawan di Pondok Pesantren Walisongo Sragen ada obrolan biasa yang luar biasa. Ketika di luar sana dan bahkan termasuk diri saya sendiri melakukan kegiatan yang sering dilakukan anak-anak yaitu “berebut”. Hanya saja yang akan saya bicarakan bukanlah tentang berebut mainan mobil-mobilan, pistol-pistolan atau makanan tetapi perebutan “benar” dan “salah” dari suatu pendapat atau opini yang muncul di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara atau bahkan pendapat dan opini dalam kehidupan beragama.

Di era demokrasi Indonesia saat ini sangat mudah sekali organisasi, golongan dan bahkan seorang pribadi menyampaikan pendapatnya. Hal itu karena ketersediaan media yang digunakan untuk saling berkomunikasi juga semakin banyak, mulai dari media sosial internet, lembaga dan organisasipun menjadi penyedia media komunikasi melalui event-event yang mereka selenggarakan. Kemampuan smartphone dalam mengakses internet dan social network pun semakin mudah dan terbuka. Semua itu adalah bagian dari perkembangan teknologi.

Opini dan pendapat yang muncul dari pribadi dan golongan tentu ada yang sesuai dengan pemikiran sebagian orang dan ada yang tidak sesuai dengan sebagian orang yang lain. Hal ini tentu memicu terjadinya perbedaan pendapat. Ada yang beranggapan bahwa pendapat golongan X adalah benar dan ada yang menganggap pendapat golongan Y lah yang benar. Tentu masing-masing memiliki argumen dan dasar pemikiran yang membuat mereka berfikir bahwa pendapat yang mereka anggap benar itu adalah yang benar. Hal itu bukanlah hal yang dilarang karena jelas undang-undang Nomor 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Mengeluarkan Pendapat di Muka Umum Dalam pasal 1 ayat (1), undang-undang tersebut menyatakan bahwa

“Hak setiap warga negara untuk menyampaikan pikiran dengan lisan, tulisan, dan sebagainya secara bebas dan bertanggung jawab sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.”

Didalam undang-undang tersebut telah disebutkan bahwa setiap warga negara memiliki hak untuk berpendapat baik secara lisan, tulisan dan sebagainya secara bebas dan beratanggung jawab. Lalu apa yang menjadi permasalahan ketika seseorang berpendapat?

Yang menjadi permasalahan bukanlah “berpendapat” nya, melainkan adalah menganggap “pendapat” nya atau “golongan” nya yang paling benar. Hal semacam ini yang memicu pribadi atau golongan untuk saling berebut kebenaran.
Ketika itupun kita dalam meja makan saling berandai-andai.

“andai saja kita bisa berebut “salah” bukan berebut “benar”.

terakhir dan sebagai penutup tulisan ku hari ini

“Aku yang Salah”


Semoga bermanfaat yaa....


EmoticonEmoticon