Konfigurasi Port SSH Ubuntu Server 18.04



Oke kawan-kawan sebangsa dan setanah air. Kali ini kita akan lanjut membahas tentang bagaimana melakukan konfigurasi atau mengganti port default SSH server yang di gunakan pada Ubuntu server 18.04 LTS. Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa SSH server merupakan cara kita untuk melakukan remote server dari computer client. Sehingga kita tidak harus bertatap muka langsung dengan server. Hal ini dapat dilakukan selama network computer client terhubung dengan server. Serta Firewall server mengijinkan kita untuk melakukan remote.

Secara Default SSH server menggunakan port 22. Sehingga kita bisa menuliskan alamat IP dan Port 22 pada Putty atau remote console lain untuk dapat mengakses server. Permasalahan muncul ketika kita harus mengakses server dari jaringan public. Penyedia layanan internet hanya menyediakan 1 IP public yang bisa kita akses dari luar. Di dalam jaringan kita terdapat banya server SSH yang juga memiliki port default 22. Sehingga kita perlu membedakan port-port yang digunakan oleh server filed kita.

Kali ini marikita belajar bersama bagaimana cara  mengganti port SSH pada Ubuntu Server 18.04 LTS. Langsung saja kita membahasnya:

1. Kita dapat melakukan checking proses dan status SSH pada server dengan cara:

service ssh status

Sehingga akan muncul hasil output seperti berikut


Dari status diatas kita bisa melihat bahwa port aktif adalah 22

2. Sekarang kita mencoba untuk mengganti port dengan mengedit file sshd_conf dengan perintah

nano /etc/ssh/sshd_config

Kemudian kita bisa mengganti default port yang ada menjadi sesuai dengan kebutuhan server serta menghapus pagar di depan nya menjadi seperti ini


Menjadi


simpan konfigurasi lalu keluar denan perintah ctrl+x kemudian y

3. Silahkan restart service ssh untuk mereset port ssh dengan perintah

service ssh restart

4. Silahkan check apakah port sudah sesuai dengan kebutuhan server


Demikian yang dapat saya sampaikan semoga berhasil dan bermanfaat yaa

Cara Setting IP Address Ubuntu Server 18.04 Statis dan Dinamis


Setelah kemarin kita membahas tentang apa itu Ubuntu 18.04 LTS dan Bagaimana cara melakukan upgrade dari versi 17.10 menjadi 18.04. Mari sekarang kita belajar bersama bagaimana cara melakukan konfigurasi IP address pada Ubuntu server melalui command line.

Sebenarnya ketika kita melakukan installasi server dan pada network configuration kita memilih manual maka disitu kita diperintah untuk mengisi IP address maupun gateway dan nameservers serta nameserver dari server. Sehingga sebetulnya tidak diperlukan lagi setting IP. Tetapi terkadang memang perlu perubahan IP dari statis menjadi dinamis atau ada perubahan network sehingga harus dilakukan perubahan IP.

Mulai dari Ubuntu versi 17.10 dan sampai 18.04 setting IP tidak lagi berada pada file interfaces tetapi berada pada /etc/netplan/*.yaml baru setelah itu kita melakukan save dan apply konfigurasi yang telah kita lakukan.

Silahkan edit file /etc/netplan/50-cloud-init.yaml dengan perintah:

nano /etc/netplan/50-cloud-init.yaml

Cara setting IP address statis:

network:
 ethernets:
   enp0s3:
      addresses:
        -192.168.6.7.24
      gateway4: 192.168.6.254
      nameservers:
                addresses:
                -192.168.6.254 
                search:
                -8.8.8.8
     optional: true
version: 2

Setelah selesai silahkan simpan dan keluar dari konfigurasi tersebut (ctrl+x) – y

Untuk menyimpan setting yang telah kita lakukan silahkan jalankan perintah berikut:

sudo netplan apply

Cara setting IP address dinamis:
network:
 ethernets:
   enp0s3:
     dhcp4: yes
     dhcp6: yes
     optional: true
version: 2

Setelah selesai silahkan simpan dan keluar dari konfigurasi tersebut (ctrl+x) – y

Untuk menyimpan setting yang telah kita lakukan silahkan jalankan perintah berikut:

sudo netplan apply

Demikian cara setting IP address pada Ubuntu Server 18.04 secara statis dan dinamis. Semoga Bermanfaat ya….

Cara Install Ubuntu Server 18.04

Setelah pada postingan sebelumnya telah kita bahas tentang Ubuntu 18.04 LTS dan bagaimana cara melakukan upgrade dari ubuntu versi sebelumnya yantu Ubuntu 17.10. Sekarang kita akan mencoba bagaimana melakukan installasi Ubuntu Server 18.04 LTS. Untuk mendapatkan image installer nya silahkan kunjungi:

http://releases.ubuntu.com/18.04/ (Ubuntu Desktop and Server)

Yang perlu diketahui adalah pada versi 18.04 ini Ubuntu tidak merilis versi 32bit tetapi hanya versi 64bit. Ada perbedaan yang nampak jelas ketika kita melakukan proses installasi Ubuntu Server 18.04 dengan versi sebelumnya 17.10. Banyak proses yang di sederhanakan dan di persingkat sehingga proses installasi tidak memakan banyak waktu. Secara mendasar installasi Ubuntu server 18.10 terdapat 9 proses yaitu

1. Memilih bahasa
Silahkan bahasa yang akan digunakan untuk melakukan installasi dan setting bahasa yang akan di install pada system. Pada Ubuntu 18.04 setting bahasa menjadi lebih ringkas jika dibandingkan dengan versi sebelumnya yang menanyakan dua kali yaitu bahasa installasi dan system.

2. Memilih layout keyboard
Pada proses ini kita di minta untuk menentukan layout keyboard yang kita gunakan. Saya memilih menggunakan layout English (US). Kita bisa melakukan deteksi otomatis keyboard atau juga dapa memlih secara manual dengan mengarahkan highligt poda pilihan bahasa yang kita inignkan.

3. Memilih platform yang ingin kita install
Untuk pemilihan platform disini dimaksudkan kita untuk dapat menentukan server yang akan kita gunakan apakah berbasis cloud atau fisik

4. Setting IP address network interface
Pada proses ini akan terlihat perangkat yang terdeteksi secara otomatis yang ada pada server. Contoh dibawah menunjukkan perangkat interface network yaitu enp0s3.

Kita dapat memilih melakukan konfigurasi secara dynamic atau statis dengan cara enter pada perangkat interface, sehingga muncul tampilan seperti di bawah. Silahkan pilih “Use a static IPv4 configuration” untuk melakukan setting IP secara manual.

Dibawah merupakan contoh setting IP secara manual.


Setelah selesai melakukan konfigurasi silahakn pilih save kemudian done untuk lanjut ke proses berikutnya.

5. Setting proxy server
Jika kita tidak memiliki proxy server maka silahkan kosongi kolom proxy address untuk lanjut ke proses berikutnya

6. Melakukan setting partisi yang dibutuhkan
Pada proses partisi contoh dibawah kita akan melakukan setting secara manual. Seperti yang kita ketahui bahawa linux membutuhkan minimal 2 partisi yaitu swap dan root

Pada contoh dibawah terlihat hardisk yang tersedia yaitu 9.998G sebagai local disk. Maka kita akan menambahkan partisi baru dari hardisk yang telah tersedia

Setting swap yaitu 2x dari memory RAM yang kita gunakan pada server dengan format swap


Setelah selesai menentukan partisi, maka akan muncul report berupa list partisi yang siap untuk di eksekusi

Silahkan tekan Done untuk menyelesaikan installasi

Silahkan melanjutkan dengan menekan pilihan Continue

7. Setting profile
Proses ini mengajak kita untuk melengkapi profile nama, nama server, nama panggilan, password

8. Installasi package
Setelah semua selesai maka tugas server yang akan dilakukan yaitu installasi package, pada versi ubuntu 18.04, kita seperti tidak diberi kesempatan untuk memilih paket yang akan di instal

9. Finished Installasi
Pada proses ini silahkan reboot server dan lepaskan media installasi


Demikian adalah cara installasi Ubuntu Server 18.04 yang sedikit berbeda dengan versi sebelumnya. Semoga Artikel ini dapat memberi manfaat kepada para pembaca.

Cara Upgrade Ubuntu Server dari 17.10 ke 18.04 LTS (Bionic Beaver)


Ubuntu 18.04 telah di rilis dengan versi LTS (Long Term Service), artinya Ubuntu versi 18.04 akan didukung hingga 5 tahun kedepan yaitu April 2023 untuk Ubuntu Dekstop, Ubuntu Server, dan Ubuntu Core. Sedangkan untuk Ubuntu Studio 18.04 akan di support selama 9 bulan ke depan. Dan selain diatas ubuntu akan support hingga 3 tahun. 

Untuk mendapatkan Ubuntu 18.04 LTS anda bisa langsung menuju link download official Ubuntu berikut:

http://releases.ubuntu.com/18.04/ (Ubuntu Desktop and Server)

Jika ingin melakukan proses upgrade dari versi sebelumnya yaitu 17.10 kita bisa melakukan dengan cara sebagai berikut
Untuk versi desktop :

  • Tekan Alt+F2 dan kemudian ketik update-manager –c pada command line box
  • Sehingga Update Manager akan terbuka dan memberitahu kita bahwa Ubuntu 18.04 LTS sudah tersedia
  • Jika tidak, kita bisa menjalankan /usr/lib/ubuntu-release-upgrader/check-new-release-gtk
  • Klik Upgrade dan ikuti perintah di layar

Untuk versi server:

  • Install update-manager-core jika masih belum terinstall
  • Jalankan tool upgrade dengan perintah sudo do-release-upgrade
  • Ikuti perintah di layar

Perhatikan bahwa proses upgrade akan menggunakan screen GNU dan otomatis merecover jika tercada masalah koneksi

Di sini tidak disediakan proses upgrade secara offline baik ubuntu server dan dektsop. Maka mohon pastikan bahwa koneksi dari local ke mirror berjalan dengan baik.

Bersama di Hilangnya Malam


Pernah kita berada di ujung malam
Yang ada hanyalah bintang dan bulan
Angin dan kabut malam pun cemburu
Hingga akhirnya mereka ikut bersama kita

Kita bagaikan musafir yang terpenjara
Hati kita selalu jauh berlari
Raga kita hanyut dalam suasana
Mimpi telah membawa kita ke dalam keputusasaan

Pernah kita bersama tepat di bawah terik matahari
Mata diteduhkan oleh banyangan kepala
Keinginan untuk bertahan
Tumbang oleh kunang-kunang di pelupuk mata

Kau tampar aku dengan kesinisanmu
Kau tikam aku dengan kesombonganmu
Egoismu membuat egoisku semakin egois
Aku muak dengan semua kisah kita

Aku pergi tanpa kata
Hanya dendam yang selalu tegak berdiri di rongga dada
Kesendirian menantang hatiku
Sanggupkah aku bertahan

Tiada teman untuk berbagi secuil kisah hidup
Tiada teman untuk meneteskan kesedihan
Tiada teman untuk melepas gelak tawa
Aku rindu padamu, bersama di hilangnya malam

Memfungsikan Al-Quran


Tidaklah mudah untuk dapat memahami kandungan dari kitab suci Al-Quran. Butuh waktu beratahun-tahun untuk dapat benar-benar mengerti makna dan kebenarannya. Ada beberapa cabang ilmu yang harus dikuasai sebelum dapat menafsirkan Al-Quran. Antara lain adalah cabang ilmu asbabunnuzul, ilmu nasakh-manskukh, ilmu tentang al-”aam wal khash, ilmu tentang Al-Mujmal dan Mubayyan, dan seterusnya. Sehingga tidak bisa jika kita sebagai seorang awam memaknainya kemudian menyampaikan apa yang dia pahami sesuai keyakinannya sendiri.

MTQ (Musabaqah Tilawatil Quran), yang memperlombakan beberapa segi kemahiran dalam bidang Al-Quran, sudah merupakan tradisi positif yang sudah di lembagakan oleh pemerintah. Tidak diragukan besarnya perhatian pemerintah dan masyarakat menyangkut penyelenggaraan MTQ. Tidak kecil pula dana dan biaya yang dikerahkan untuk mensukseskannya. Dampak positif dari perlombaan-perlombaan tersebut dapat dirasakan baik di tingkat nasional maupun internasional. Namun demikian, disadari pula bahwa sisi yang terpenting dari kehadiran Al-Quran belum banyak dirasakan dalam pentas kehidupan bermasyarkat.

Al-Quran memperkenalkan dirinya sebagai hudan li al-nas (petunjuk untuk seluruh umat manusia). Inilah fungsi utama kehadirannya. Dalam rangka penjelasan tentang fungsi Al-Quran ini, Allah menegaskan: Kitab Suci diturunkan untuk memberi putusan (jalan keluar) terbaik bagi problem-problem kehidupan manusia (QS 2:213). Kita yakin bahwa para sahabat Nabi Muhammad saw, seandainya hidup pada saat ini, pasti akan memahami petunjuk-petunjuk Al-Quran sedikit atau banyak -berbeda dengan pemahaman mereka sendiri yang telah tercatat literatur keagamaan. Karena pemahaman manusia terhadap sesuatu tidak dapat dilepaskan dari kondisi sosial masyarakat, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, pengalaman-pengalaman, di samping kecenderunga ndan latar belakang pendidikannya.

Tantangan besar yang dihadapi oleh umat Islam, khususnya cendekiawan Muslim, adalah bagaimana memfungsikan Kitab Suci, yaitu bagaimana menangkap pesan-pesannya dan memasyarakatkannya, bagaimana memahami petunjuk-petunjuknya tanpa mengabaikan – apalagi mengorbankan – budaya dan perkembangan positif masyarakat. Sebagian umat kita memfungsikan Al-Quran sebagai mukjizat. Padahal fungsinya sebagai mukjizat hanya ditujukan kepada yang meragukannya sebagai firman Allah. Sikap semacam ini antara lain mengantarkan kita pada mencari-cari ayat Al-Quran untuk dijadikan bukti bahwa Kitab Suci ini telah mendahului penemuan-penemuan ilmiah abad modern – suatu usaha yang tidak jarang “ memperkosa” ayat-ayat itu sendiri.

Di sisi lain, kemukjizatannya dipahami oleh sebagian umat sebagai keampuhan ayat-ayat Al-Quran untuk melahirkan hal-hal yang tidak rasional. Ini bukan berarti saya mengingkari adanya hal-hal yang bersifat suprarasional atau supranatural. Hanya saja, umat harus disadarkan bahwa benang yang memisahkan suprarasional dengan irasional amatlah tipis, sehingga jika tidak waspada, seorang dapat terjerumus ke lembah khurafât ( takhayul). Lebih-lebih lagi kalau dingat bahwa Al-Quran sendiri menegaskan bahwa al-imdad al-ghaiby, yang didalamnya terdapat segala macam yang supra itu, tidak mungkin akan tiba tanpa didahului usaha manusia yang wajar, rasional, dan natural.

Kutipan Buku: Lentera Hati
Karya: M Quraish Shihab

Bukti Kebenaran Al-Quran


Sudah menjadi kewajiban kita untuk meyakini dan mengimani kitab Allah yaitu Al-Quran. Sehingga jangan sampai ada terbesit pertanyaan sedikitpun tentang kebenaran Al-Quran. Karena jika itu terjadi maka sesungguhnya keyakinan kita telah berkurang. Maka yang harus kita lakukan adalah mempelajari untuk memahami kandungan dari setiap ayat yang ada pada Al-Quran.

Adakah mushaf Al-Quran di setiap rumah keluarga Muslim? Diduga jawabannya adalah “tidak”! Apakah anggota keluarga Muslim yang memiliki mushaf telah mampu membaca Kitab Suci itu? Diduga keras jawabannya “belum”! Apakah setiap Muslim yang mampu membaca Al-Quran mengetahui garis besar kandungannya serta fungsi kehadirannya di tengah-tengah umat? Sekali lagi, jawaban yang diduga serupa dengan yang sebelumnya.

Kitab Suci yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. antara lain dinamai Al-Qur’an (bacaan yang sempurna), walaupun penerima dan masyarakat pertama yang ditemuinya tidak mengenal baca-tulis. Ini semua, dimaksudkan, agar mereka dan generasi berikutnya membacanya. Fungsi utama Al-Quran adalah memberikan petunjuk. Hal ini tidak dapat terlaksana tanpa membaca dan memahaminya.

Dari celah-celah redaksinya ditemukan tiga bukti kebenarannya. Pertama, keindahan, keserasian, dan keseimbangan kata-katanya. Kata yaum yang berarti “ hari”, dalam bentuk tunggalnya terulang sebanyak 365 kali (ini sama dengan satu tahun), dalam bentuk jamak diulangi sebanyak 30 kali (ini sama dengan satu bulan). Sementara itu, kata yaum yang berarti “bulan” hanya terdapat 12 kali. Kata panas dan dingin masing-masing diulangi sebanyak empat kali, sementara dunia dan akhirat, hidup dan mati, setan dan malaikat, dan masih banyak yang lainnya, semuanya seimbang dalam jumlah yang serasi dengan tujuannya dan indah kedengarannya.

Kedua, pemberitaan gaib yang diungkapkannya. Awal surah Ar-Rum menegaskan kekalahan Romawi oleh Persia pada tahun 614: Setelah kekalahan, mereka akan menang dalam masa sembilan tahun di saat mana kaum mukminin akan bergembira. Dan itu benar adanya, tepat pada saat kegembiraan kaum Muslimin memenangkan Perang Badar pada 622, bangsa Romawi memperoleh kemenangan melawan Persia. Pemberitaannya tentang keselamatan badan Fir’aun yang tenggelam di laut Merah 3.200 tahun yang lalu, baru terbukti setelah muminya (badannya yang diawetkan) ditemukan oleh Loret di Wadi Al-Muluk Thaba, Mesir, pada 1896 dan dibuka pembalutnya oleh Eliot Smith 8 juli 1907. Maha benar Allah yang menyatakan kepada Fir’aun pada saat kematiannya: Hari ini Kuselamatkan badanmu supaya kamu menjadi pelajaran bagi generasi sesudahmu (QS 10:92).

Ketiga, isyarat-isyarat ilmiahnya sungguh mengagumkan ilmuwan masa kini, apalagi yang menyampaikannya adalah seorang ummi yang tidak pandai membaca dan menulis serta hidup di lingkungan masyarakat terbelakang. Bukti kebenaran (mukjizat) rasul-rasul Allah bersifat suprarasional. Hanya Muhammad yang datang membawa bukti rasional. Ketika masyarakatnya meminta bukti selainnya, Tuhan berpesan agar mereka mempelajari Al-Quran (lihat QS 29:50). Sungguh disayangkan bahwa tidak sedikit umat Islam dewasa ini bukan hanya tak pandai membaca Kitab Sucinya, tetapi juga tidak memfungsikannya, kecuali sebagai penangkal bahaya dan pembawa manfaat dengan cara-cara yang irasional.

Rupanya, umat generasi inilah antara lain yang termasuk diadukan oleh Nabi Muhammad: Wahai Tuhan, sesungguhnya umatku telah menjadikan Al-Quran sesuatu yang tidak dipedulikan (QS 25:30).

Tahap pertama untuk mengatasi kekurangan dan kesalahan di atas adalah meningkatkan kemampuan baca Al-Quran. Janganlah anak-anak kita disalahkan jika kelak di hari kemudian mereka pun mengadu kepada Allah, sebagaimana ditemukan dalam sebuah riwayat: “Wahai Tuhanku, aku menuntut keadilan-Mu terhadap perlakuan orang-tuaku yang aniaya ini.”

Kutipan Buku: Lentera Hati
Karya: M Quraish Sihab

Al-Quran Al-Karim: Bacaan yang Mahasempurna dan Mahamulia


Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa Al-Qur'an adalah kitab suci Agama Islam yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW tidak secara langsung, tetapi diturunkan secara berangsur-angsur dalam waktu 22 tahun 2 bulan 22 hari. Al-Qur'an adalah sebuah kesempurnaan dan menjadi warisan kanjeng Nabi Muhammad kepada umat Islam sebagai petunjuk dan pedoman hidup. Al-Qur'an menjadi pengobat lara, rambu-rambu ketika manusia berada pada kebingungan sehingga manusia akan tetap berada pada jalan lurus yaitu jalan kebenaran Allah SWT.

Al-Qur’an secara harfiah berarti “bacaan yang mencapai puncak kesempurnaan”. Al-Qur’an Al-Karim berarti “bacaan yang Mahasempurna dan Mahamulia”. Kemahamuliaan dan kemahasempurnaan “bacaan“ ini agaknya tidak hanya dapat dipahami oleh para pakar, tetapi juga oleh semua orang yang menggunakan ‘sedikit’ pikirannya.

Tidak ada satu bacaan pun sejak peradaban tulis-baca dikenal limaribu tahun yang lalu, yang dibaca baik oleh orang yang mengerti artinya maupun tidak kecuali “bacaan yang mahasempurna dan mulia ini”. Bahkan, anehnya, juara membacanya adalah mereka yang bahasa ibunya bukan bahasa Al-Qur’an. Bukankah juara-juara MTQ tingkat internasional seringkali diraih oleh putra-putri bangsa kita?

Tidak ada satu bacaan pun, selain Al-Qur’an, yang dipelajari dan diketahui sejarahnya bukan secara umum, tetapi ayat demi ayat, baik dari segi tahun, bulan masa dan musim turunnya - malam atau siang, dalam perjalanan atau di tempat berdomisili penerimanya (Nabi saw.), bahkan “sebab-sebab serta saat-saat turunya”.

Tidak ada satu bacaan pun, selain Al-Qur’an, yang dipelajari redaksinya, bukan hanya dari segi penetapan kata demi kata dalam susunannya serta pemilihan kata tersebut, tetapi mencakup arti kandungannya yang tersurat dan tersirat sampai kepada kesan-kesan yang ditimbulkannya dan yang dikenal dalam bidang studi Al-Qur’an dengan tafsir isyari. 

Tidak ada satu bacaan pun, selain Al-Qur’an yang dipelajari, dibaca, dan dipelihara aneka macam bacaannya – yang jumlahnya lebih dari sepuluh – serta ditetapkan tata-cara membacanya – mana yang harus dipanjangkan atau dipendekkan, dipertebal ucapannya atau diperhalus, di mana tempat-tempat berhenti yang boleh, yang dianjurkan atau dilarang, bahkan sampai pada lagu dan irama yang diperkenankan dan yang tidak. Bahkan, lebih jauh lagi, sampai pada sikap dan etika membaca pun mempunyai aturan-aturan tersendiri.

Tidak ada satu bacaan pun, selain Al-Qur’an, yang diatur dan dipelajari tata cara penulisannya, baik dari segi persesuaian dan perbedaannya dengan penulisan masa kini, sampai pada mencari rahasia perbedaan penulisan kata-kata yang sama seperti penulisan kata “bismi” yang pada wahyu pertama ditulis dengan menggunakan huruf alif setelah ba’. Sedangkan pada ucapan bismillah ditulis tanpa alif dan kemudian ditemukan pertimbangan-pertimbangan yang sangat mengagumkan dari perbedaan-perbedaan tersebut. 

Pernahkah Anda mengetahui satu bacaan yang sifatnya seperti ini? Kalau tidak, wajarlah bila Kalam Ilahi yang disampaikan Jibril kepada Nabi Muhmmad saw. ini dinamainya dengan Al-Qur’an, bacaan yang mencapai puncak kesempurnaan.

Kutipan Buku: Lentera Hati
Karya : M Quraish Shihab

Mulailah Segala Aktivitas Kita dengan Mengucapkan Basmalah


Basmalah telah kita kenal sebagai kalimat yang selalu diajarkan sejak kita belajar bahasa. Semua umat Islam hampir selalu mengucapkan basmalah disetiap aktivitasnya entah mereka mengetahui artinya atau tidak. Ketika hendak berkendara kita mengucapkannya, hendak belajar, memasak, bekerja. Tetapi tidak jarang diantara kita yang tidak memahami bagaimana sebenarnya kalimat basmalah tersebut terbentuk dan apa sebenarnya maksud dan tujuan. Secara harfiah basmalah memiliki arti "Dengan menyebut nama Allah Yang Mahapengasih dan Mahapenyayang."

Mulailah segala aktivitas kita dengan mengucapkan basmalah, yakni Bi Ism Allah Al-Rahman Al Rahim. Dengan mengucapkan ucapan ini. Kita bukan sekedar mengharapkan “berkah”, tetapi juga menghayati maknanya, sehingga dapat melahirkan sikap dan karya yang positif.

Kata bi yang diterjemahkan “dengan”, oleh para ulama dikaitkan dengan kata “memulai”, sehingga pengucap basmalah pada hakikatnya berkata: “Dengan (atau demi) Allah saya memulai (pekerjaan ini).” Apabila anda menjadikan pekerjaan anda “atas nama” dan “demi” Allah, maka pekerjaan tersebut pasti tidak akan mengakibatkan kerugian pihak lain. Karena ketika itu Anda telah membentengi diri dari pekerjaan Anda dari godaan nafsu serta ambisi pribadi.

Kata bi juga dikaitkan dengan “kekuasaan dan pertolongan”, sehingga si pengucap menyadari bahwa pekerjaan yang dilakukannya terlaksana atas kodrat (kekuasaan) Allah. Ia memohon bantuan-Nya agar pekerjaannya dapat terselesaikan dengan baik dan sempurna. Dengan permohonan itu, di dalam jiwa si pengucap tertanam rasa kelemahan di hadapan Allah SWT. Namun, pada saat yang sama, tertanam pula kekuatan, rasa percaya diri, dan optimism karena ia merasa memperoleh bantuan dan kekuatan dari Allah – sumber segala kekuatan. Apabila suatu pekerjaan dilakukan atas bantuan Allah maka pasti ia sempurna, indah, baik dan benar karena sifat-sifat Allah “berbekas” pada pekerjaan tersebut.

Allah, yang dimohonkan bantuanNya itu, memiliki sifat-sifat yang Mahasempurna. Ada dua sifat kesempurnaan yang ditekankan, yaitu Al Rahman dan Al Rahim. Al rahman adalah curahan rahmatNya secara actual yang di berikan di dunia ini kepada alam raya, termasuk manusia (mukmin maupun kafir). Sedangkan Al Rahim adalah curahan rahmatNya kepada mereka yang beriman yang akan diberikan kelak di akhirat.

Kedua sifat tersebut – yang ditanamkan dan yang diusahakan untuk memenuhi jiwa setiap pengucap basmalah agar seluruh sikap dan perbuatannya di warnai oleh curahan rahmat dan kasih saying, bukan hanya ditanamkan pada sesamama mukmin atau sesame manusia, tetapi juga pada binatang, tumbuh-tumbuhan, bahkan juga pada makhluk-makhluk tak bernyawa sekalipun.

Ucapkanlah basmallah pada saat Anda mulai menulis, niscaya tulisan dan apa yang Anda tulis akan menjadi indah dan benar. Kasih sayang akan tercurah pada pena dan kertas, sehingga anda tidak menyia-nyiakannya. Ucapkanlah basmalah pada saat anda memakai pakaian, nerjalan, menyembelih binatang, bekerja, berbaring, dan sebagainya, agar kasih sayang tercurah kepada anda, dan anda pun mampu mencurahkannya kepada yang lain.


Salah dan keliru – jika enggan berkata berdosa – orang yang beranggapan bahwa “empat tambah empat sama dengan delapan baik dengan basmalah atau tidak”. Salah dan keliru anggapan ini, karena dengan basmalah,  paling tidak jumlah tersebut di ucapkan dengan basmalah, paling tidak jumlah tersebut diucapkan dan dipaparkan dengan indah dan baik. Sementara bila tanpa basmalah, tidak mustahil jumlahnya dalam catatan delapan tetapi dalam kenyataan hanya tujuh, yang satu tercecer mungkin ke saku yang enggan mengucapkannya, Maha Benar dan Maha Indah

Kutipan Buku: Lentera Hati
Karya: M Quraish Shihab

Berdiskusi dengan Prof. Mahfud MD


Radikalisme telah menjadi topik hangat beberapa bulan atau bahkan beberapa hari terakhir. Dan sore tadi ketika saya melihat status Whatsapp salah teman menampilkan background sebuah event, tiba-tiba saja saya bertanya 

“ Acara apa bro..?” 

“Forum diskusi menangkal radikalisme” balas dia. Wah..asik juga ini,

“Siapa pembicaranya? Dimana?” aku langsung bertanya.

“Pak Mahfud MD, Buruan kesini bentar lagi mulai di Semar Resto”

Tanpa berpikir panjang lebar tingggi lagi aku pun langsung cuci muka dan gassss…, karena memang lokasi seminar hanya berjarak 500 m dari kos ditambah lagi sudah lama rasa ingin bertemu langsung dengan beliau dan ikut berdiskusi serta menyerap ilmu dari Mantan Ketua MK dan Menteri Pertahanan RI ini.

Acarapun dimulai dengan Prof. Dr. Mahfud MD sebagai pemantik diskusi yang bertemakan “Menangkal Radikalisme dan Penggunaan Isu SARA dalam Pilkada. Secara detail beliau menjelaskan. Beliau memulai dengan menjelaskan tentang bentuk Negara Indonesia yaitu sebuah Negara Demokrasi yang berdasarkan kepada Pancasila. Demokasi sebenarnya bukanlah system yang baik. Tetapi Demokasi adalah pilihan terbaik dan tepat sesuai dengan kondisi bangsa Indonesia yang memilki banyak suku, bangsa dan budaya. Termasuk bentuk Negara Khilafah yang akhir-akhir ini sering di sebut oleh sebagian kelompok merupakan system pemerintahan yang tepat dan paling baik untuk di terapkan di Indonesia. “Tunjukkan kepada saya Negara Khilafah mana saat ini yang telah berhasil dan sukses membangun negaranya?”  beliau menantang kepada semua peserta untuk menyebutkan Negara Islam yang telah berhasil negaranya berada dalam kedamaian dan ketenteraman.

Radikalisme dalam pengertiannya adalah upaya dari seseorang atau sekelompok orang untuk merubah sebuah dasar system kenegaraan yang telah disepakati sebagai keputusan final. Radikalisme sangat mudah terwujud melalui proses intolerensi dan pemanfaatan isu SARA (Suku Agama Ras dan Antar Golongan). Telah banyak contoh Negara yang terpecah dan berperang karena gagal dalam menjaga tolerensi dalam beragama. Perbedaan itu adalah hal yang sudah di takdirkan oleh Allah. Maka jangan jadikan perbedaan menjadi permasalahan yang dapat memecah  belah bangsa. “Setiap manusia pasti mempunyai Negara, sehingga kewarganegaraan yang melekat pada setiap manusia itu adalah fitrah yang tidak bisa dihindari”, tambah baliau ketika menjelaskan bahwa kita tidak bisa tidak memiliki kewarganegaraan. Menurutnya, “Indonesia perhari ini sudah memiliki 17.504 pulau dan 16.056 pulau sudah bernama dan masuk di PBB bahwa ini pulau milik Indonesia. Indonesia juga memiliki lebih dari 700 suku. Sampai sekarang Indonesia tetap utuh sebagai bangsa Negara itu semua karena kita memiliki Pancasila.”

Yang paling memprihatinkan saat ini adalah ternyata radikalisme telah merongrong dunia pendidikan bahkan sampai pendidikan yang paling dasar yaitu sekolah dasar. Tidak bisa kita pungkiri bahkan kita bisa melihat disekitar kita beberapa sekolah dasar swasta yang begitu mudah mengajarkan benih-benih radikalisme dengan mengajarkan kepada siswa didiknya untuk tidak hormat kepada Bendera Merah Putih, Tidak boleh menyanyikan lagu Indonesia raya, tidak boleh menyanyikan lagu-lagu wajib. Serta tidak diperbolehkan melakukan kegiatan budaya yang telah menjadi peninggalan para pendahulu dan Ulama. Bahkan ada kejadian ketika seorang bidan yang akan melakukan imunisasi kepada siswa SD sambil menannyakan “Apa cita-cita kamu dek?” dan si bocah menjawah “Aku ingin berjihad ke Amerika”. Whatttsss?? Sang bidan pun kaget tidak menyangka. Bahkan ada yang mengatakan “saya tidak mau di suntik, karena suntikan itu haram” Waduhhhhh.. Yang memprihatinkan adalah bagaimana bisa sekolah-sekolah tersebut mendapat ijin mendirikan sekolah. Sekolah seperti ini tidak bisa dipungkiri adanya dan ini terjadi bahkan disetiap daerah.

Mari kita perangi radikalisme mulai dari keluarga kita dan lingkungan. Jadikan anak-anak kita anak-anak bangsa yang mencintai bangsanya sendiri, bukan mencintai bangsa lain. Lebih berhati-hati dalam memilih pendidikan untuk anak. Pelajari dulu sejarah dan visi misi sekolah itu didirikan. Sehingga kita tidak salah memilih dan bisa ikut menjaga keutuhan NKRI sebagai bentuk final Negara Indonesia.

Gerhana Bulan dan Wanita Hamil?


Gerhana bulan terjadi ketika bumi berada diantara bulan dan matahari, sehingga cahaya matahari yang menuju bulan akan terhalangi oleh bumi. Proses terhalangnya bulan tersebut bisa sebagian atau tertutup secara penuh, tergantung pada posisi bulan, bumi  dan matahari. Ketika bulan, bumi dan matahari terletak pada satu garis lurus maka akan terjadi apa yang disebut gerhana matahari total. Siklus ini dapat diperhitungkan dengan berbagai bidang keilmuan. Perkembangan teknologi memungkinkan masyarakat melakukan penelitian dan pengamatan secara langsung maupun tidak langsung.

Ada satu hal yang perlu diperhatikan dari kejadian gerhana bulan ataupun gerhana matahari. Memang benar bahwa kejadian tersebut merupakan siklus alam yang dapat diperhitungkan kejadian dan waktunya. Bahkan semakin jauh kesini kita semakin akrab dengan kejadian gerhana bulan dan gerhana matahari, seakan kita lupa bahwa ada kekuatan yang maha dahsyat yang menyebabkan kejadian tersebut terjadi. Bukan sekedar reaksi alamiah biasa, tetapi bahwa pergerakan seluruh alam semesta ini telah di atur oleh Sang Maha Berkehendak Allah SWT. Bumi, bulan, matahari, galaxy dan seluruh alam semesta telah ditentukan orbit dan perputarannya oleh Allah.

Seharusnya melalui kejadian gerhana bulan/gerhana matahari kita menjadi ingat akan kebesaran Allah. Sehingga kita menjadi ingat akan dosa dan sesegera memohon ampun kepadaNya. Tetapi sekarang alih-alih mengingat dosa, yang ada adalah kesombongan diri dengan menyatakan bahwa “gerhana bulan itu hal yang biasa”. Ternyata ilmu pengetahuan yang diperoleh bukan membuka mata tetapi seakan ilmu tersebut telah membutakan mata hati kita.

Didalam pandangan adat jawa ketika ada seoarang wanita yang sedang mengandung dianjurkan untuk melaksanakan “kondangan/bancakan”. Tetapi bagi sebagian kalangan hal itu menjadi kegiatan yang harus dihindari karena akan mendekatkan kita kepada syirik atau terkadang dikatakan bid’ah sehingga dianjurkan untuk ditinggalkan. Ada hikmah yang tidak banyak diketahui orang bahwa kegiatan kondangan/bancakan adalah wujud dari apa yang kita kenal dengan sodaqoh. Salah satu sunnah yang sangat dianjurkan ketika terjadi gerhana bulan adalah bersodaqoh. Seorang wanita yang sedang mengandung dianjurkan untuk bersodaqoh sehingga akan membawa kebaikan kepada janin yang ada di dalam kandungan. Ditambah lagi suasana hati ketika terjadi gerhana bulan/matahari akan sangat dekat dengan Allah karena kita akan diingatkan akan kebesaranNya. Maka suasana hati tersebut akan membantu kita mencapai keihklasan ketika bersodaqoh. Dan puncak dari ibadah adalah hati yang ihklas. Jika demikian bukankah kondangan atau “bancakan” yang menjadi adat Jawa ketika terjadi gerhana bulan/matahari bagi wanita hamil sangat baik untuk dilakukan? Mengapa harus di hindari?

Tata Cara Sholat Gerhana Bulan

Seperti yang telah kita ketahui bahwa besok pada tanggal 31 Januari 2018 tepatnya pada hari Rabu akan terjadi Gerhana Bulan yang disebut dengan Supermoon yaitu Bulan akan kehilangan cahayanya, lebih redup dari sinar bulan normal. Sering tampak dengan warna kemerahan karena pembengkokan cahaya di atmosfer. Bulan yang tampak merah ini sering disebut blood moons. Karena supermoon pada 31 Januari menjadi yang kedua dalam satu bulan, maka disebut sebagai fenomena blue moon, yang rata-rata terjadi dua setengah tahun sekali.

Gerhana bulan dalam bahasa Arab disebut “khusuf”. Saat terjadi fenomena gerhana bulan kita dianjurkan untuk mengerjakan shalat sunah dua rakaat atau shalat sunah khusuf. Shalat sunah ini terbilang sunah muakkad

و) القسم الثاني من النفل ذي السبب المتقدم وهو ما تسن فيه الجماعة صلاة (الكسوفين) أي صلاة كسوف الشمس وصلاة خسوف القمر وهي سنة مؤكدة

Artinya, “Jenis kedua adalah shalat sunah karena suatu sebab terdahulu, yaitu shalat sunah yang dianjurkan untuk dikerjakan secara berjamaah yaitu shalat dua gerhana, shalat gerhana matahari dan shalat gerhana bulan. Ini adalah shalat sunah yang sangat dianjurkan,” (Lihat Syekh Nawawi Banten, Nihayatuz Zein, Bandung, Al-Maarif, tanpa keterangan tahun, halaman 109).

Secara umum pelaksanaan shalat gerhana matahari dan shalat gerhana bulan diawali dengan shalat sunah dua rakaat dan setelah itu disusul dengan dua khutbah seperti shalat Idul Fitri atau shalat Idul Adha di masjid jami. Hanya saja bedanya, setiap rakaat shalat gerhana bulan dilakukan dua kali rukuk. Sedangkan dua khutbah setelah shalat gerhana matahari atau bulan tidak dianjurkan takbir sebagaimana khutbah dua shalat Id.

Jamaah shalat gerhana bulan adalah semua umat Islam secara umum sebagai jamaah shalat Id. Sedangkan imamnya dianjurkan adalah pemerintah atau naib dari pemerintah setempat.

Sebelum shalat ada baiknya imam atau jamaah melafalkan niat terlebih dahulu sebagai berikut:

أُصَلِّي سُنَّةَ الخُسُوفِ رَكْعَتَيْنِ إِمَامً/مَأمُومًا لله تَعَالَى

Ushallî sunnatal khusûf rak‘ataini imâman/makmûman lillâhi ta‘âlâ

Artinya, “Saya shalat sunah gerhana bulan dua rakaat sebagai imam/makmum karena Allah SWT.”

Adapun secara teknis, shalat sunah gerhana bulan adalah sebagai berikut:
1. Niat di dalam hati ketika takbiratul ihram.

2. Mengucap takbir ketika takbiratul ihram sambil niat di dalam hati.

3. Baca taawudz dan Surat Al-Fatihah. Setelah itu baca Surat Al-Baqarah atau selama surat itu dibaca dengan jahar (lantang).

4. Rukuk dengan membaca tasbih selama membaca 100 ayat Surat Al-Baqarah.

5. Itidal, bukan baca doa i’tidal, tetapi baca Surat Al-Fatihah. Setelah itu baca Surat Ali Imran atau selama surat itu.

6. Rukuk dengan membaca tasbih selama membaca 80 ayat Surat Al-Baqarah.

7. Itidal. Baca doa i’tidal.

8. Sujud dengan membaca tasbih selama rukuk pertama.

9. Duduk di antara dua sujud

10.Sujud kedua dengan membaca tasbih selama rukuk kedua.

11.Duduk istirahat atau duduk sejenak sebelum bangkit untuk mengerjakan rakaat kedua.

12.Bangkit dari duduk, lalu mengerjakan rakaat kedua dengan gerakan yang sama dengan rakaat pertama. Hanya saja bedanya, pada rakaat kedua pada diri pertama dianjurkan membaca surat An-Nisa. Sedangkan pada diri kedua dianjurkan membaca Surat Al-Maidah.

13.Salam.

14.Imam atau orang yang diberi wewnang menyampaikan dua khutbah shalat gerhana dengan taushiyah agar jamaah beristighfar, semakin takwa kepada Allah, tobat, sedekah, memerdedakan budak (pembelaan terhadap kelompok masyarakat marjinal), dan lain sebagainya.

Apakah boleh dibuat dalam versi ringkas? Dalam artian seseorang membaca Surat Al-Fatihah saja sebanyak empat kali pada dua rakaat tersebut tanpa surat panjang seperti yang dianjurkan? Atau bolehkah mengganti surat panjang itu dengan surat pendek setiap kali selesai membaca Surat Al-Fatihah? Boleh saja. Ini lebih ringkas seperti keterangan Syekh Ibnu Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi dalam I’anatut Thalibin berikut ini.

ولو اقتصر على الفاتحة في كل قيام أجزأه، ولو اقتصر على سور قصار فلا بأس. ومقصود التطويل دوام الصلاة إلى الانجلاء

Artinya, “Kalau seseorang membatasi diri pada bacaan Surat Al-Fatihah saja, maka itu sudah memadai. Tetapi kalau seseorang membatasi diri pada bacaan surat-surat pendek setelah baca Surat Al-Fatihah, maka itu tidak masalah. Tujuan mencari bacaan panjang adalah mempertahankan shalat dalam kondisi gerhana hingga durasi gerhana bulan selesai,” (Lihat Syekh Ibnu Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi, I’anatut Thalibin, Beirut, Darul Fikr, 2005 M/1425-1426 H, juz I, halaman 303).

Selagi gerhana bulan berlangsung, maka kesunahan shalat dua rakaat gerhana tetap berlaku. Sedangkan dua khutbah shalat gerhana bulan boleh tetap berlangsung atau boleh dimulai meski gerhana bulan sudah usai. Demikian tata cara shalat gerhana bulan berdasarkan keterangan para ulama. Wallahu a’lam. (Alhafiz K)

Kutipan dari : nu.or.id

Membaca Sejarah Nabi Muhammad (2) : Wahyu Pertama yang Menggertarkan


Setelah sepeninggal sang kakek Abdul Muthalib, Muhammad kecil di asuh oleh pamannya Abu Thalib. Dengan penuh kasih dan saying Abu Thalib mengasuh Muhammad kecil. Sampailah saat dimana Muhammad kecil tumbuh menjadi dewasa, anak yang membawa petunjuk telah menjadi seorang pemuda dengan berbekal kebenaran dan memancarkan cahaya. Terdapat pelita hikmah didalam genggaman tangannya. Berita gembira keluar dari lisannya. Tampak kesungguhan nyata dari sorot matanya. Mengalir jiwa kepahlawan sejati di dalam darahnya. Siap menentang setiap kecongkakan dan keangkuhan. Kaum Quraisy mengenalnya dengan pengenalan yang sangat mendalam. Kabilan Arab telah rela memilihnya sebagai hakim ketika terjadi peristiwa peletakan Hajar Aswad di Baitullah. Beliau mendapat julukan Al-Amin (Orang yang Jujur).

Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam menikah dengan Khadijah bisti Khuwailid yaitu seorang saudagar wanita kaya raya. Sejak sebelum menikah, Muhammad adalah seorang pria yang sering merenung, dan berpikir, kontemplasi (olah spritual), memikirkan fenomena alam dan lingkungan sekitarnya di tempat yang jauh dari keramaian. Dari pernikahan ini beliau dikarunia beberapa anak laki-laki dan perempuan, meskipun anak laki-lakinya wafat di masa kanak-kanak.

Beliau berdoa kepada Tuhan agar menemukan sesuatu yang mencerahkan dirinya dan kaumnya. Kita mengetahui dari kariernya di belakang hari, bahwa Muhammad sangat prihatin akan keruntuhan moral yang sangat mengkhawatirkan di Makkah. Kebiasaan ini terus berlanjut setelah beliau menikah. Bahkan pada bulan Ramadhan, hal itu lebih ditingkatkannya lagi, disertai dengan membagikan makanan dan sedekah kepada fakir miskin yang membutuhkan. Hingga pada suatu malam di bulan Ramadhan, tahun 610 M, di sudut gua Hira, beliau dikejutkan oleh turunnya wahyu yang pertama dari Allah, sebagaimana hadits berikut ini:

Dari Aisyah Ummul Mukminin radliyallahu ‘anha, ia berkata: “Permulaan wahyu yang diterima oleh Rasulullah adalah ar-ru’ya ash-shalihah (mimpi yang baik) dalam tidur. Biasanya mimpi yang dilihatnya itu jelas laksana cuaca pagi. Kemudian beliau jadi senang menyendiri; lalu menyendiri di gua Hira untuk bertahannuts. Beliau bertahannuts, yaitu beribadah di sana beberapa malam, dan tidak pulang ke rumah isterinya. Dan untuk itu beliau membawa bekal. Kemudian beliau pulang kepada Khadijah, dan di bawahnya pula perbekalan untuk keperluan itu, sehingga datang kepada beliau Al-Haqq (kebenaran, wahyu) pada waktu beliau berada di gua Hira. Maka datanglah kepada beliau malaikat dan berkata, “Bacalah!” Jawab beliau, “Aku tidak bisa membaca.” Nabi bercerita, “Lalu malaikat itu menarikku dan memelukku erat-erat sehingga aku kepayahan.

Kemudian ia melepaskanku dan berkata lagi, “Bacalah!” dan aku menjawab, “Aku tidak bisa membaca.” Aku lalu ditarik dan dipeluknya kembali kuat-kuat hingga habislah tenagaku. Seraya melepaskanku, ia berkata lagi, “Bacalah!” Aku kembali menjawab, “Aku tidak bisa membaca.” Kemudian untuk ketiga kalinya ia menarik dan memelukku sekuat-kuatnya, lalu seraya melepaskanku ia berkata,

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ. خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ. اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ. الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ. عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

(1) Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan; (2) Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah; (3) Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah; (4) Yang mengajar (manusia) dengan perantaran qalam (pena); (5) Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. al-Alaq, 96:1-5)

Kemudian Nabi pulang ke rumah istrinya, Khadijah binti Khuwailid dengan hati gemetar ketakutan. Beliau memohon kepadanya, “Selimutilah aku!” Mereka menyelimuti beliau hingga hilanglah ketakutannya. Kemudian beliau bercerita kepada Khadijah, setelah diceritakannya apa yang baru dialaminya,ia berkata: “Sesungguhnya aku mencemaskan diriku.” Khadijah berkata, “Sama sekali tidak. Demi Allah, Allah selamanya tidak akan menghinakan engkau. Sesungguhnya engkaulah orang yang selalu menyambung tali persaudaraan, selalu menanggung orang yang kesusahan, selalu mengusahakan apa yang diperlukan, selalu menghormati tamu dan membantu derita orang yang membela kebenaran.”

Selanjutnya Khadijah pergi membawa beliau menemui Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul Uzza, anak paman Khadijah. Waraqah adalah seorang Arab pemeluk agama Nasrani di zaman Jahiliyah. Ia pandai menulis kitab dalam bahasa Ibrani dan ia pun menulis Injil dengan bahasa Ibrani. Ia seorang tua yang buta. Khadijah berkata kepadanya, “Wahai anak pamanku, dengarkanlah cerita anak saudaramu ini. Waraqah bertanya kepada Nabi, “Wahai anak saudaraku, apakah yang kaulihat?”
Lalu beliau menceritakan apa yang beliau lihat dan alami di Gua Hira’. Kemudian Waraqah berkata lagi kepada beliau, “Itulah Namus (Jibril) yang pernah diutus Allah kepada Musa. Mudah-mudahan aku masih hidup di saat engkau diusir kaummu!” Maka Rasulullah bertanya, “Apakah mereka akan mengusirku?” Ia menjawab, “Ya, sebab setiap orang yang membawa seperti apa yang engkau bawa pasti dimusuhi orang. Jadi kelak engkau mengalami masa-masa seperti itu, dan jika aku masih hidup, aku pasti akan menolongmu sekuat tenagaku.” Tidak lama kemudian, Waraqah meninggal dan wahyu pun putus untuk sementara (fatrah al-wahy).

Menurut Ibnu Syihab dari Abu Salamah bin Abdirrahman, Jabir bin Abdillah al-Anshari menceritakan tentang terhentinya wahyu tersebut, bahwa Rasulullah bersabda:

بَيْنَا أَنَا أَمْشِي إِذْ سَمِعْتُ صَوْتًا مِنْ السَّمَاءِ فَرَفَعْتُ بَصَرِي فَإِذَا الْمَلَكُ الَّذِي جَاءَنِي بِحِرَاءٍ جَالِسٌ عَلَى كُرْسِيٍّ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ فَرُعِبْتُ مِنْهُ فَرَجَعْتُ فَقُلْتُ زَمِّلُونِي زَمِّلُونِي فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ قُمْ فَأَنْذِرْ إِلَى قَوْلِهِ وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ

“Ketika aku sedang berjalan, tiba-tiba aku mendengar suara dari atas, maka aku lihat ada malaikat yang pernah datang kepadaku di gua Hira, sedang duduk di atas kursi di antara langit dan bumi, maka takutlah aku padanya. Lalu aku pulang seraya berkata, “Selimutilah aku!” Lalu turunlah wahyu:

يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ. قُمْ فَأَنذِرْ. وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ. وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ. وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ

Wahai orang yang berselimut! Bangunlah, lalu berilah (manusia) peringatan, dan Tuhanmu agungkanlah, dan pakaianmu sucikanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah!” (QS. al-Muddatsir, 74 :1-5).

Sesudah itu, wahyu pun turun terus-menerus.” (HR. Bukhari: 02, Muslim: 232). Pada wahyu yang kedua inilah, di usianya yang keempat puluh tahun, Muhammad diangkat sebagai Rasul, utusan Tuhan untuk membenahi tatanan umat manusia secara keseluruhan. Dalam hadits lainnya, diriwayatkan dari Aisyah Ummul Mukminin ra., bahwa Harits bin Hisyam r.a. telah bertanya kepada Rasulullah Katanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana cara wahyu datang kepada engkau?” Beliau menjawab:

أَحْيَانًا يَأْتِينِي مِثْلَ صَلْصَلَةِ الْجَرَسِ وَهُوَ أَشَدُّهُ عَلَيَّ فَيُفْصَمُ عَنِّي وَقَدْ وَعَيْتُ عَنْهُ مَا قَالَ وَأَحْيَانًا يَتَمَثَّلُ لِي الْمَلَكُ رَجُلًا فَيُكَلِّمُنِي فَأَعِي مَا يَقُولُ قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا وَلَقَدْ رَأَيْتُهُ يَنْزِلُ عَلَيْهِ الْوَحْيُ فِي الْيَوْمِ الشَّدِيدِ الْبَرْدِ فَيَفْصِمُ عَنْهُ وَإِنَّ جَبِينَهُ لَيَتَفَصَّدُ عَرَقًا

“Kadang-kadang wahyu datang kepadaku seperti suara lonceng, itulah yang paling berat bagiku. Kemudian ia berhenti, dan aku sudah mengerti apa yang dikatakannya. Kadang-kadang malaikat datang kepadaku sebagai laki-laki, lalu ia berkata, maka aku mengerti apa yang diucapkannya.” Aisyah r.a. berkata: “Sungguh saya melihat wahyu turun kepada Nabi pada hari yang sangat dingin, lalu wahyu itu berhenti, dari kening beliau mengalir keringat.” (HR. Bukhari: 02, Muslim: 4304).

Yang dimaksud dengan ungkapan “seperti suara lonceng” ialah seperti bunyi lonceng besi yang gemerincing terdengar terus-menerus, bunyi yang bukan perkataan yang tersusun dari huruf-huruf. Wahyu melalui bentuk seperti ini, menunjukkan – menurut pendapat yang paling kuat – hadirnya malaikat. Dan kehadiran malaikat (yang menyampaikan wahyu) semacam inilah yang paling berat dirasakan Nabi dibanding kehadirannya dalam bentuk lain (sebagai seorang pria). Hal ini dapat dimengerti, sebab – sebagaimana dijelaskan oleh Filosof Ibnu Khaldun – pada saat itu terjadi suatu proses di mana kemanusiaan (Nabi) yang bersifat materi (jasmaniyah) lepas terkelupas sama sekali untuk kontak dengan alam malaikat yang bersifat rohani (ruhaniyah).(Rasyid Ridha, 1984: 185). Orang-orang yang pertama kali masuk Islam (as-sabiqun al-awwalun); Dari kalangan perempuan adalah istri Nabi sendiri yaitu Khadijah binti Khuwailid, dari kalangan pemuda yaitu Ali bin Abi Thalib, sedangkan dari kalangan pria dewasa adalah Abu Bakar bin Abi Quhafa, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Thalhah bin Ubaidillah, Sa’ad bin Abi Waqqash, Zubair bin Awwam, Abu Ubaidah bin al-Jarrah, dan masih banyak lagi yang lain, dari penduduk Makkah yang memeluk Islam. Mereka memilih Islam sebagai jalan hidup dengan tulus dan ikhlas.

Hari demi hari, dari waktu ke waktu, pengikut Nabi bertambah banyak. Mereka yang sudah Islam itu datang kepada beliau untuk menyatakan keislaman mereka sekaligus siap menerima ajaran-ajarannya. Gerak-gerik mereka itu tercium oleh kaum Quraisy yang ketika itu memegang otoritas penuh sebagai suku yang berkuasa di Makkah. Lebih-lebih setelah diketahui bahwa para pengikut Muhammad itu sangat membenci berhala-berhala dan dewa-dewa yang mereka sembah. Akhirnya, kaum paganisme ini mengobarkan api permusuhan kepada siapa saja yang masuk Islam. Akan tetapi, tumbuhnya agama Islam di perbukitan kota Makkah tidak dapat dibendung. Keimanan yang teguh dan keyakinan yang kuat menjadikan para pengikut Rasulullah rela berkorban demi mempertahankan agamanya. Hal itu membuat kaum musyrik Quraisy semakin membenci Muhammad dan ajarannya. Mereka mengira bahwa kata-kata Muhammad itu tidak lebih dari kata-kata pendeta atau filosof seperti Quss, Umayya, Waraqa, dan yang lain. Mereka sama sekali tidak menghiraukannya.

Tiga tahun kemudian sesudah kerasulannya, perintah Allah datang supaya Muhammad mengumumkan ajaran Islam yang masih disebarkan secara sembunyi-bunyi itu, bersamaan dengan turunnya wahyu:

وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ (214) وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ (215) فَإِنْ عَصَوْكَ فَقُلْ إِنِّي بَرِيءٌ مِّمَّا تَعْمَلُونَ

“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat, dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman. Jika mereka mendurhakaimu maka katakanlah: "Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan”. (QS. al-Syu’ara, 26: 214-216)

فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ

“Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.” (QS. al-Hijr, 15: 94)

Salah satu faktor yang mendongkrak perkembangan agama Islam secara pesat ini adalah keteledanan dari Nabi sendiri. Beliau sosok yang berbaik hati dan penuh kasih sayang. Beliau sangat rendah hati, berani membela yang benar, dan berperilaku sopan santun kepada sesamanya. Tutur kata beliau lemah lembut, selalu jujur dan berlaku adil kepada setiap orang. Tidak ada hak orang lain yang beliau langgar. Pandangan beliau terhadap orang yang lemah, miskin, dan anak-anak yatim piatu, adalah bagaikan pandangan seorang bapak kepada anaknya sendiri yang penuh kasih sayang, lemah lembut, dan mesra. Itu semua menjadikan grand point untuk beliau dalam menjalankan misinya. (Husein Haikal, 1984:94-102).

Dr. KH. Zakky Mubarak, MA, Rais Syuriyah PBNU
Kutiban dari : nu.or.id

Membaca Sejarah Nabi Muhammad (1) : Yatim Piatu di Usia 6 Tahun



Allah SWT telah memberikan derajat kenabian dan kerasulan yang menjadikan sebuah karunia bagi manusia yang terpilih. Hal itu tentu tidak akan bisa dicapai dengan usaha manusia dalam bentuk apapun karena hanya Allah yang dapat menentukan kepada siapa kah anugerah itu akan diberikan, kapan di sampaikan dan melalui cara seperti apa kemuliaan itu di berikan.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dilahirkan menjadi menusia yang berkebangsaan arab yang terpilih mendapatkan karunia dan kemuliaan sebagai Rasullulloh. Hal tersebut pun Allah yang telah menentukan. Sehingga dijadikanNya Nabi Muhammad sebagai penutup para nabi dan rasul. Beliau membawa syariat yang sempurna yang kekal dan abadi. Ajarannya pun dapat disampaikan kepada semua umat manusia dalam berbagai ras, suku dan bangsa. Beliau menjadi risalah didalam membangun peradapan yang tinggi bagi seluruh umat manusia. Bangsa arab diliputi kebodohan dan kejahilan, penganut paganism, penyembah patung dan berhala. Sejatinya nenek moyang bangsa arab berasala dari pengikut ajaran tauhid yang disampaikan oleh Nabi Ismail ‘alaihissalam. Suasana kemusrikan dan keberhalaan telah menyatu dan mendarah daging pada jiwa mereka. Hal itu telah merusak dan menodai kesucian Masjidil Haram karena adanya berhala-berhala dan patung yang bergelantungan. Tetapi semua keburukan dan kegelapan itu sirna setelah kelahiran kanjeng Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Di sekeliling Ka’bah yang berada di tengah-tengah Masjidil Haram ada kurang lebih 360 patung dan berhala yang mereka sembah. Setiap suku memiliki patung tersendiri sebagai sembahan dan perantara untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Keadaan seperti itu telah mengotori Masjid dan kesucian Ka’bah dalam menjalani pelaksanaan ibadah yang murni kepada Allah. Kaum musyrikin menjadikan patung-patung itu sebagai Tuhan-tuhan mereka. Untuk patung-patung itu hewan dikurbankan dan nadzar ditunaikan, mereka memberikan ketaatan yang total pada patung-patung itu. Keadaaan seperti itulah yang mereka jalani meskipun apabila mereka ditanya “Siapa Tuhan yang mereka sembah”. Mereka menjawab “Tuhan kami adalah Allah, kami tidak menyembah patung-patung itu kecuali hanya perantara untuk mendekatkan diri kepada-Nya dengan taqarub yang amat dekat” (QS. Al-Zumar, 39: 3).

Dalam suasana yang sangat kacau penuh kesesatan yang disebut zaman jahiliyyah itu, terjadilah pernikahan agung, antara Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim al-Quraisyi dengan Aminah binti Wahab. Dari pernikahan yang mulia itu, Allah menakdirkan lahirnya manusia yang paling agung dalam sejarah dunia, yaitu Nabi Besar Muhammad pada hari senin tanggal 12 Rabiul Awwal Tahun Gajah, bertepatan dengan 20 April 570 M. Ketika Nabi masih berada dalam kandungan ibunya. Pada suatu saat ibundanya Siti Aminah, melihat cahaya yang terang benderang dari dirinya dan menerangi istana Kisra di negeri Syam. Ayah Nabi Muhammad Sayyid Abdullah bin Abdul Muthalib meningal dunia ketika beliau masih ada dalam kandungan ibunya.

Beberapa bulan setelah itu berbahagialah Sayyidah Aminah ibunda Nabi Muhammad dan Abdul Mutahalib, kakeknya atas kelahirannya yang diberi nama Muhammad, karena ia akan menjadi orang yang sangat terpuji di masa yang akan datang. Inilah manusia yang paling agung dan paling berpengaruh dalam sejarah kemanusiaan. Petunjuk telah lahir dan alam pun telah menjadi terang bercahaya. Zaman menyambut kelahirannya dengan senyum ceria. Muhammad kecil dipelihara oleh ibunya dan kemudian disusukan kepada Halimah al-Sa’diyah kaum Bani Sa’ad dari Bani Zuhrah sampai susuannya berakhir, kemudian kembali kepangkuan ibundanya atas tanggungan kakeknya Abdul Muthalib.

Ketika umur beliau mencapai usia 6 tahun, ketika ia mulai menanyakan ayahnya kepada ibundanya yang amat dicintainya, sampailah informasi padanya tentang kewafatan ayahnya. Ketika ia masih berada dalam kandungan, maka ia pun sadar bahwa dirinya adalah anak yatim. Pada usia itu beliau diajak ibundanya Aminah untuk berziarah ke Yastrib mengunjungi saudar-saudara kakeknya dari keluarga Najjar. Perjalanan ke Yatsrib ditemani Ummu Aiman seorang pembantu wanita yang disiapkan Abdullah sebelum beliau wafat. Sampai di Madinah, Muhammad kecil diajak berziarah ke suatu rumah tempat ayahnya dahulu meninggal, serta berziarah ke tempat kuburan ayahnya. Suasana itu dirasakan begitu berat dan mengharukan, apalagi bagi Muhammad kecil yng telah menjadi yatim. (Husein Haikal, 1998: 54).

Setelah beberapa lama tinggal di Madinah, Aminah, Muhammad, dan Ummu Aiman bersiap-siap untuk pulang ke Makkah. Dalam perjalanan pulang, ketika mereka sampai di kampung Abwa’, ibunda Aminah merasa sakit, yang kemudian meninggal dunia dan dikuburkan di tempat itu juga. Muhammad kecil kembali menghadapi cobaan yang sangat berat, ibarat luka belum sembuh karena ditinggalkan ayahahandanya, tergores luka baru dengan wafatnya ibunda yang sangat dicintainya. Muhammad kini menjadi seorang yang yatim dan piatu dalam usia 6 tahun. Kemudian Ummu Aiman membawanya pulang ke Makkah. Anak itu pulang sambil menangis dengan hati yang perih, hidup sebatang kara. Baru beberapa hari yang lalu ia menyaksikan rumah tempat ketika ayahnya wafat dan kuburan ayahnya, kini ia melihat sendiri di hadapannya, ibundanya pergi, wafat tidak kembali untuk selama-lamanya. 

Anak yang masih amat kecil itu mendapat cobaan yang sangat berat, memikul beban hidup yang memilukan, sebagai seorang anak yang yatim dan piatu. Dua tahun setelah beliau berada dalam asuhan dan bimbingan kakeknya Abdul Muthalib pun wafat. Sebelum meninggal dunia, Abdul Muthalib menyerahkan cucunya kepada anaknya yang sekaligus paman Nabi, yaitu Abu Thalib. Kemudian merawatnya dengan penuh kasih sayang. Ketika di Makkah Muhammad kecil dipelihara kakeknya Abdul Muthalib. Kakeknya sangat mencintainya, ia memeliharannya dengan penuh kasih sayang, sungguhpun demikian, peristiwa sedih sebagai anak yatim piatu itu bekasnya masih mendalam sekali pada jiwanya, sehingga dalam al-Qur’an disebutkan: “Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?” (QS. al-Dhuha, 93: 6).

Dr. KH. Zakky Mubarak, MA, Rais Syuriyah PBNU
Kutipan dari : nu.or.id

Memaknai Puisi "ISLAM" Gus Mus

 


Satu lagi karya sastra dari Gus Mus yang benar-benar akan membuat kita menjadi ingat dan beristropeksi diri. Puisi yang berjudul “ISLAM” ini seakan telah mengingatkan kita semua bahwa di jaman sekarang ini banyak sekali orang-orang yang telah menjadikan semua hal bernuansa Islam. Karena ada banyak yang berpikir bahwa kalo tidak sesuai dengan syariat islam itu adalah salah. Sampai-sampai budaya yang telah diwariskan oleh pendahulu bangsa kita ini dikatakan tidak islami dan tidak sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad SAW sehingga pantas untuk di sebut bid’ah. Dan siapun yang menjalankan kegiatan itu, neraka hukumannya. Apakah kita benar-benar sudah lupa siapa yang telah membawa dan meyebarkan Islam di Nusantara kita ini.

Mari kita bayangkan jika para walisongo berdakwah dengan cara menyalahkan secara kontras apa yang telah menjadi budaya sebelum Islam masuk ke Nusantara. Pasti yang terjadi adalah peperangan dan pertumpahan darah. Suatu kecerdasan ketika Walisongo mampu merubah kultur dan Agama yang sebelumnya berada di bawah kerajaan-kerajaan Hindu seperti Majapahit menjadi beragama Islam tanpa ada kebencian. Yang terbukti sampai sekarang pemeluk Agama Hindu dan Islam atau dengan pemeluk Agama lain masih hidup rukun berdampingan di Negeri kita ini.  Hal itu dikarenakan Walisongo tidak menyalahkan budaya tetapi membenarkan apa yang salah, dengan tanpa merubah esensi-esensi islam yang terkandung di dalam budaya itu.

Islam agamaku nomor satu di dunia
Islam benderaku berkibar di mana-mana
Islam tempat ibadahku mewah bagai istana
Islam tempat sekolahku tak kalah dengan yang lainnya
Islam sorbanku
Islam sajadahku
Islam kitabku
Islam podiumku kelas exclussive yang mengubah cara dunia memandang
Tempat aku menusuk kanan kiri
Islam media massaku
Cahaya komunikasi islami masa kini
Tempat aku menikam saat ini
Islam organisasiku
Islam perusahaanku
Islam yayasanku
Islam istansiku , menara dengan seribu pengeras suara
Islam muktamarku, forum hiruk pikuk tiada tara
Islam pulsaku
Islam warungku hanya menjual makanan sorgawi
Islam supermarketku melayani segala keperluan manusiawi
Islam makananku
Islam teaterku menampilkan karakter-karakter suci
Islam festifalku memeriahkan hari-hari mati
Islam kaosku
Islam pentasku
Islam seminarku, membahas semua
Islam upacaraku, menyambut segala
Islam puisiku, menyanyikan apa saja
Tuhan islamkah aku?

Server

More »

Catatan

More »