Memaknai Puisi "ISLAM" Gus Mus

 


Satu lagi karya sastra dari Gus Mus yang benar-benar akan membuat kita menjadi ingat dan beristropeksi diri. Puisi yang berjudul “ISLAM” ini seakan telah mengingatkan kita semua bahwa di jaman sekarang ini banyak sekali orang-orang yang telah menjadikan semua hal bernuansa Islam. Karena ada banyak yang berpikir bahwa kalo tidak sesuai dengan syariat islam itu adalah salah. Sampai-sampai budaya yang telah diwariskan oleh pendahulu bangsa kita ini dikatakan tidak islami dan tidak sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad SAW sehingga pantas untuk di sebut bid’ah. Dan siapun yang menjalankan kegiatan itu, neraka hukumannya. Apakah kita benar-benar sudah lupa siapa yang telah membawa dan meyebarkan Islam di Nusantara kita ini.

Mari kita bayangkan jika para walisongo berdakwah dengan cara menyalahkan secara kontras apa yang telah menjadi budaya sebelum Islam masuk ke Nusantara. Pasti yang terjadi adalah peperangan dan pertumpahan darah. Suatu kecerdasan ketika Walisongo mampu merubah kultur dan Agama yang sebelumnya berada di bawah kerajaan-kerajaan Hindu seperti Majapahit menjadi beragama Islam tanpa ada kebencian. Yang terbukti sampai sekarang pemeluk Agama Hindu dan Islam atau dengan pemeluk Agama lain masih hidup rukun berdampingan di Negeri kita ini.  Hal itu dikarenakan Walisongo tidak menyalahkan budaya tetapi membenarkan apa yang salah, dengan tanpa merubah esensi-esensi islam yang terkandung di dalam budaya itu.

Islam agamaku nomor satu di dunia
Islam benderaku berkibar di mana-mana
Islam tempat ibadahku mewah bagai istana
Islam tempat sekolahku tak kalah dengan yang lainnya
Islam sorbanku
Islam sajadahku
Islam kitabku
Islam podiumku kelas exclussive yang mengubah cara dunia memandang
Tempat aku menusuk kanan kiri
Islam media massaku
Cahaya komunikasi islami masa kini
Tempat aku menikam saat ini
Islam organisasiku
Islam perusahaanku
Islam yayasanku
Islam istansiku , menara dengan seribu pengeras suara
Islam muktamarku, forum hiruk pikuk tiada tara
Islam pulsaku
Islam warungku hanya menjual makanan sorgawi
Islam supermarketku melayani segala keperluan manusiawi
Islam makananku
Islam teaterku menampilkan karakter-karakter suci
Islam festifalku memeriahkan hari-hari mati
Islam kaosku
Islam pentasku
Islam seminarku, membahas semua
Islam upacaraku, menyambut segala
Islam puisiku, menyanyikan apa saja
Tuhan islamkah aku?


EmoticonEmoticon