Bersama di Hilangnya Malam


Pernah kita berada di ujung malam
Yang ada hanyalah bintang dan bulan
Angin dan kabut malam pun cemburu
Hingga akhirnya mereka ikut bersama kita

Kita bagaikan musafir yang terpenjara
Hati kita selalu jauh berlari
Raga kita hanyut dalam suasana
Mimpi telah membawa kita ke dalam keputusasaan

Pernah kita bersama tepat di bawah terik matahari
Mata diteduhkan oleh banyangan kepala
Keinginan untuk bertahan
Tumbang oleh kunang-kunang di pelupuk mata

Kau tampar aku dengan kesinisanmu
Kau tikam aku dengan kesombonganmu
Egoismu membuat egoisku semakin egois
Aku muak dengan semua kisah kita

Aku pergi tanpa kata
Hanya dendam yang selalu tegak berdiri di rongga dada
Kesendirian menantang hatiku
Sanggupkah aku bertahan

Tiada teman untuk berbagi secuil kisah hidup
Tiada teman untuk meneteskan kesedihan
Tiada teman untuk melepas gelak tawa
Aku rindu padamu, bersama di hilangnya malam

Memfungsikan Al-Quran


Tidaklah mudah untuk dapat memahami kandungan dari kitab suci Al-Quran. Butuh waktu beratahun-tahun untuk dapat benar-benar mengerti makna dan kebenarannya. Ada beberapa cabang ilmu yang harus dikuasai sebelum dapat menafsirkan Al-Quran. Antara lain adalah cabang ilmu asbabunnuzul, ilmu nasakh-manskukh, ilmu tentang al-”aam wal khash, ilmu tentang Al-Mujmal dan Mubayyan, dan seterusnya. Sehingga tidak bisa jika kita sebagai seorang awam memaknainya kemudian menyampaikan apa yang dia pahami sesuai keyakinannya sendiri.

MTQ (Musabaqah Tilawatil Quran), yang memperlombakan beberapa segi kemahiran dalam bidang Al-Quran, sudah merupakan tradisi positif yang sudah di lembagakan oleh pemerintah. Tidak diragukan besarnya perhatian pemerintah dan masyarakat menyangkut penyelenggaraan MTQ. Tidak kecil pula dana dan biaya yang dikerahkan untuk mensukseskannya. Dampak positif dari perlombaan-perlombaan tersebut dapat dirasakan baik di tingkat nasional maupun internasional. Namun demikian, disadari pula bahwa sisi yang terpenting dari kehadiran Al-Quran belum banyak dirasakan dalam pentas kehidupan bermasyarkat.

Al-Quran memperkenalkan dirinya sebagai hudan li al-nas (petunjuk untuk seluruh umat manusia). Inilah fungsi utama kehadirannya. Dalam rangka penjelasan tentang fungsi Al-Quran ini, Allah menegaskan: Kitab Suci diturunkan untuk memberi putusan (jalan keluar) terbaik bagi problem-problem kehidupan manusia (QS 2:213). Kita yakin bahwa para sahabat Nabi Muhammad saw, seandainya hidup pada saat ini, pasti akan memahami petunjuk-petunjuk Al-Quran sedikit atau banyak -berbeda dengan pemahaman mereka sendiri yang telah tercatat literatur keagamaan. Karena pemahaman manusia terhadap sesuatu tidak dapat dilepaskan dari kondisi sosial masyarakat, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, pengalaman-pengalaman, di samping kecenderunga ndan latar belakang pendidikannya.

Tantangan besar yang dihadapi oleh umat Islam, khususnya cendekiawan Muslim, adalah bagaimana memfungsikan Kitab Suci, yaitu bagaimana menangkap pesan-pesannya dan memasyarakatkannya, bagaimana memahami petunjuk-petunjuknya tanpa mengabaikan – apalagi mengorbankan – budaya dan perkembangan positif masyarakat. Sebagian umat kita memfungsikan Al-Quran sebagai mukjizat. Padahal fungsinya sebagai mukjizat hanya ditujukan kepada yang meragukannya sebagai firman Allah. Sikap semacam ini antara lain mengantarkan kita pada mencari-cari ayat Al-Quran untuk dijadikan bukti bahwa Kitab Suci ini telah mendahului penemuan-penemuan ilmiah abad modern – suatu usaha yang tidak jarang “ memperkosa” ayat-ayat itu sendiri.

Di sisi lain, kemukjizatannya dipahami oleh sebagian umat sebagai keampuhan ayat-ayat Al-Quran untuk melahirkan hal-hal yang tidak rasional. Ini bukan berarti saya mengingkari adanya hal-hal yang bersifat suprarasional atau supranatural. Hanya saja, umat harus disadarkan bahwa benang yang memisahkan suprarasional dengan irasional amatlah tipis, sehingga jika tidak waspada, seorang dapat terjerumus ke lembah khurafât ( takhayul). Lebih-lebih lagi kalau dingat bahwa Al-Quran sendiri menegaskan bahwa al-imdad al-ghaiby, yang didalamnya terdapat segala macam yang supra itu, tidak mungkin akan tiba tanpa didahului usaha manusia yang wajar, rasional, dan natural.

Kutipan Buku: Lentera Hati
Karya: M Quraish Shihab

Bukti Kebenaran Al-Quran


Sudah menjadi kewajiban kita untuk meyakini dan mengimani kitab Allah yaitu Al-Quran. Sehingga jangan sampai ada terbesit pertanyaan sedikitpun tentang kebenaran Al-Quran. Karena jika itu terjadi maka sesungguhnya keyakinan kita telah berkurang. Maka yang harus kita lakukan adalah mempelajari untuk memahami kandungan dari setiap ayat yang ada pada Al-Quran.

Adakah mushaf Al-Quran di setiap rumah keluarga Muslim? Diduga jawabannya adalah “tidak”! Apakah anggota keluarga Muslim yang memiliki mushaf telah mampu membaca Kitab Suci itu? Diduga keras jawabannya “belum”! Apakah setiap Muslim yang mampu membaca Al-Quran mengetahui garis besar kandungannya serta fungsi kehadirannya di tengah-tengah umat? Sekali lagi, jawaban yang diduga serupa dengan yang sebelumnya.

Kitab Suci yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. antara lain dinamai Al-Qur’an (bacaan yang sempurna), walaupun penerima dan masyarakat pertama yang ditemuinya tidak mengenal baca-tulis. Ini semua, dimaksudkan, agar mereka dan generasi berikutnya membacanya. Fungsi utama Al-Quran adalah memberikan petunjuk. Hal ini tidak dapat terlaksana tanpa membaca dan memahaminya.

Dari celah-celah redaksinya ditemukan tiga bukti kebenarannya. Pertama, keindahan, keserasian, dan keseimbangan kata-katanya. Kata yaum yang berarti “ hari”, dalam bentuk tunggalnya terulang sebanyak 365 kali (ini sama dengan satu tahun), dalam bentuk jamak diulangi sebanyak 30 kali (ini sama dengan satu bulan). Sementara itu, kata yaum yang berarti “bulan” hanya terdapat 12 kali. Kata panas dan dingin masing-masing diulangi sebanyak empat kali, sementara dunia dan akhirat, hidup dan mati, setan dan malaikat, dan masih banyak yang lainnya, semuanya seimbang dalam jumlah yang serasi dengan tujuannya dan indah kedengarannya.

Kedua, pemberitaan gaib yang diungkapkannya. Awal surah Ar-Rum menegaskan kekalahan Romawi oleh Persia pada tahun 614: Setelah kekalahan, mereka akan menang dalam masa sembilan tahun di saat mana kaum mukminin akan bergembira. Dan itu benar adanya, tepat pada saat kegembiraan kaum Muslimin memenangkan Perang Badar pada 622, bangsa Romawi memperoleh kemenangan melawan Persia. Pemberitaannya tentang keselamatan badan Fir’aun yang tenggelam di laut Merah 3.200 tahun yang lalu, baru terbukti setelah muminya (badannya yang diawetkan) ditemukan oleh Loret di Wadi Al-Muluk Thaba, Mesir, pada 1896 dan dibuka pembalutnya oleh Eliot Smith 8 juli 1907. Maha benar Allah yang menyatakan kepada Fir’aun pada saat kematiannya: Hari ini Kuselamatkan badanmu supaya kamu menjadi pelajaran bagi generasi sesudahmu (QS 10:92).

Ketiga, isyarat-isyarat ilmiahnya sungguh mengagumkan ilmuwan masa kini, apalagi yang menyampaikannya adalah seorang ummi yang tidak pandai membaca dan menulis serta hidup di lingkungan masyarakat terbelakang. Bukti kebenaran (mukjizat) rasul-rasul Allah bersifat suprarasional. Hanya Muhammad yang datang membawa bukti rasional. Ketika masyarakatnya meminta bukti selainnya, Tuhan berpesan agar mereka mempelajari Al-Quran (lihat QS 29:50). Sungguh disayangkan bahwa tidak sedikit umat Islam dewasa ini bukan hanya tak pandai membaca Kitab Sucinya, tetapi juga tidak memfungsikannya, kecuali sebagai penangkal bahaya dan pembawa manfaat dengan cara-cara yang irasional.

Rupanya, umat generasi inilah antara lain yang termasuk diadukan oleh Nabi Muhammad: Wahai Tuhan, sesungguhnya umatku telah menjadikan Al-Quran sesuatu yang tidak dipedulikan (QS 25:30).

Tahap pertama untuk mengatasi kekurangan dan kesalahan di atas adalah meningkatkan kemampuan baca Al-Quran. Janganlah anak-anak kita disalahkan jika kelak di hari kemudian mereka pun mengadu kepada Allah, sebagaimana ditemukan dalam sebuah riwayat: “Wahai Tuhanku, aku menuntut keadilan-Mu terhadap perlakuan orang-tuaku yang aniaya ini.”

Kutipan Buku: Lentera Hati
Karya: M Quraish Sihab

Al-Quran Al-Karim: Bacaan yang Mahasempurna dan Mahamulia


Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa Al-Qur'an adalah kitab suci Agama Islam yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW tidak secara langsung, tetapi diturunkan secara berangsur-angsur dalam waktu 22 tahun 2 bulan 22 hari. Al-Qur'an adalah sebuah kesempurnaan dan menjadi warisan kanjeng Nabi Muhammad kepada umat Islam sebagai petunjuk dan pedoman hidup. Al-Qur'an menjadi pengobat lara, rambu-rambu ketika manusia berada pada kebingungan sehingga manusia akan tetap berada pada jalan lurus yaitu jalan kebenaran Allah SWT.

Al-Qur’an secara harfiah berarti “bacaan yang mencapai puncak kesempurnaan”. Al-Qur’an Al-Karim berarti “bacaan yang Mahasempurna dan Mahamulia”. Kemahamuliaan dan kemahasempurnaan “bacaan“ ini agaknya tidak hanya dapat dipahami oleh para pakar, tetapi juga oleh semua orang yang menggunakan ‘sedikit’ pikirannya.

Tidak ada satu bacaan pun sejak peradaban tulis-baca dikenal limaribu tahun yang lalu, yang dibaca baik oleh orang yang mengerti artinya maupun tidak kecuali “bacaan yang mahasempurna dan mulia ini”. Bahkan, anehnya, juara membacanya adalah mereka yang bahasa ibunya bukan bahasa Al-Qur’an. Bukankah juara-juara MTQ tingkat internasional seringkali diraih oleh putra-putri bangsa kita?

Tidak ada satu bacaan pun, selain Al-Qur’an, yang dipelajari dan diketahui sejarahnya bukan secara umum, tetapi ayat demi ayat, baik dari segi tahun, bulan masa dan musim turunnya - malam atau siang, dalam perjalanan atau di tempat berdomisili penerimanya (Nabi saw.), bahkan “sebab-sebab serta saat-saat turunya”.

Tidak ada satu bacaan pun, selain Al-Qur’an, yang dipelajari redaksinya, bukan hanya dari segi penetapan kata demi kata dalam susunannya serta pemilihan kata tersebut, tetapi mencakup arti kandungannya yang tersurat dan tersirat sampai kepada kesan-kesan yang ditimbulkannya dan yang dikenal dalam bidang studi Al-Qur’an dengan tafsir isyari. 

Tidak ada satu bacaan pun, selain Al-Qur’an yang dipelajari, dibaca, dan dipelihara aneka macam bacaannya – yang jumlahnya lebih dari sepuluh – serta ditetapkan tata-cara membacanya – mana yang harus dipanjangkan atau dipendekkan, dipertebal ucapannya atau diperhalus, di mana tempat-tempat berhenti yang boleh, yang dianjurkan atau dilarang, bahkan sampai pada lagu dan irama yang diperkenankan dan yang tidak. Bahkan, lebih jauh lagi, sampai pada sikap dan etika membaca pun mempunyai aturan-aturan tersendiri.

Tidak ada satu bacaan pun, selain Al-Qur’an, yang diatur dan dipelajari tata cara penulisannya, baik dari segi persesuaian dan perbedaannya dengan penulisan masa kini, sampai pada mencari rahasia perbedaan penulisan kata-kata yang sama seperti penulisan kata “bismi” yang pada wahyu pertama ditulis dengan menggunakan huruf alif setelah ba’. Sedangkan pada ucapan bismillah ditulis tanpa alif dan kemudian ditemukan pertimbangan-pertimbangan yang sangat mengagumkan dari perbedaan-perbedaan tersebut. 

Pernahkah Anda mengetahui satu bacaan yang sifatnya seperti ini? Kalau tidak, wajarlah bila Kalam Ilahi yang disampaikan Jibril kepada Nabi Muhmmad saw. ini dinamainya dengan Al-Qur’an, bacaan yang mencapai puncak kesempurnaan.

Kutipan Buku: Lentera Hati
Karya : M Quraish Shihab

Mulailah Segala Aktivitas Kita dengan Mengucapkan Basmalah


Basmalah telah kita kenal sebagai kalimat yang selalu diajarkan sejak kita belajar bahasa. Semua umat Islam hampir selalu mengucapkan basmalah disetiap aktivitasnya entah mereka mengetahui artinya atau tidak. Ketika hendak berkendara kita mengucapkannya, hendak belajar, memasak, bekerja. Tetapi tidak jarang diantara kita yang tidak memahami bagaimana sebenarnya kalimat basmalah tersebut terbentuk dan apa sebenarnya maksud dan tujuan. Secara harfiah basmalah memiliki arti "Dengan menyebut nama Allah Yang Mahapengasih dan Mahapenyayang."

Mulailah segala aktivitas kita dengan mengucapkan basmalah, yakni Bi Ism Allah Al-Rahman Al Rahim. Dengan mengucapkan ucapan ini. Kita bukan sekedar mengharapkan “berkah”, tetapi juga menghayati maknanya, sehingga dapat melahirkan sikap dan karya yang positif.

Kata bi yang diterjemahkan “dengan”, oleh para ulama dikaitkan dengan kata “memulai”, sehingga pengucap basmalah pada hakikatnya berkata: “Dengan (atau demi) Allah saya memulai (pekerjaan ini).” Apabila anda menjadikan pekerjaan anda “atas nama” dan “demi” Allah, maka pekerjaan tersebut pasti tidak akan mengakibatkan kerugian pihak lain. Karena ketika itu Anda telah membentengi diri dari pekerjaan Anda dari godaan nafsu serta ambisi pribadi.

Kata bi juga dikaitkan dengan “kekuasaan dan pertolongan”, sehingga si pengucap menyadari bahwa pekerjaan yang dilakukannya terlaksana atas kodrat (kekuasaan) Allah. Ia memohon bantuan-Nya agar pekerjaannya dapat terselesaikan dengan baik dan sempurna. Dengan permohonan itu, di dalam jiwa si pengucap tertanam rasa kelemahan di hadapan Allah SWT. Namun, pada saat yang sama, tertanam pula kekuatan, rasa percaya diri, dan optimism karena ia merasa memperoleh bantuan dan kekuatan dari Allah – sumber segala kekuatan. Apabila suatu pekerjaan dilakukan atas bantuan Allah maka pasti ia sempurna, indah, baik dan benar karena sifat-sifat Allah “berbekas” pada pekerjaan tersebut.

Allah, yang dimohonkan bantuanNya itu, memiliki sifat-sifat yang Mahasempurna. Ada dua sifat kesempurnaan yang ditekankan, yaitu Al Rahman dan Al Rahim. Al rahman adalah curahan rahmatNya secara actual yang di berikan di dunia ini kepada alam raya, termasuk manusia (mukmin maupun kafir). Sedangkan Al Rahim adalah curahan rahmatNya kepada mereka yang beriman yang akan diberikan kelak di akhirat.

Kedua sifat tersebut – yang ditanamkan dan yang diusahakan untuk memenuhi jiwa setiap pengucap basmalah agar seluruh sikap dan perbuatannya di warnai oleh curahan rahmat dan kasih saying, bukan hanya ditanamkan pada sesamama mukmin atau sesame manusia, tetapi juga pada binatang, tumbuh-tumbuhan, bahkan juga pada makhluk-makhluk tak bernyawa sekalipun.

Ucapkanlah basmallah pada saat Anda mulai menulis, niscaya tulisan dan apa yang Anda tulis akan menjadi indah dan benar. Kasih sayang akan tercurah pada pena dan kertas, sehingga anda tidak menyia-nyiakannya. Ucapkanlah basmalah pada saat anda memakai pakaian, nerjalan, menyembelih binatang, bekerja, berbaring, dan sebagainya, agar kasih sayang tercurah kepada anda, dan anda pun mampu mencurahkannya kepada yang lain.


Salah dan keliru – jika enggan berkata berdosa – orang yang beranggapan bahwa “empat tambah empat sama dengan delapan baik dengan basmalah atau tidak”. Salah dan keliru anggapan ini, karena dengan basmalah,  paling tidak jumlah tersebut di ucapkan dengan basmalah, paling tidak jumlah tersebut diucapkan dan dipaparkan dengan indah dan baik. Sementara bila tanpa basmalah, tidak mustahil jumlahnya dalam catatan delapan tetapi dalam kenyataan hanya tujuh, yang satu tercecer mungkin ke saku yang enggan mengucapkannya, Maha Benar dan Maha Indah

Kutipan Buku: Lentera Hati
Karya: M Quraish Shihab

Berdiskusi dengan Prof. Mahfud MD


Radikalisme telah menjadi topik hangat beberapa bulan atau bahkan beberapa hari terakhir. Dan sore tadi ketika saya melihat status Whatsapp salah teman menampilkan background sebuah event, tiba-tiba saja saya bertanya 

“ Acara apa bro..?” 

“Forum diskusi menangkal radikalisme” balas dia. Wah..asik juga ini,

“Siapa pembicaranya? Dimana?” aku langsung bertanya.

“Pak Mahfud MD, Buruan kesini bentar lagi mulai di Semar Resto”

Tanpa berpikir panjang lebar tingggi lagi aku pun langsung cuci muka dan gassss…, karena memang lokasi seminar hanya berjarak 500 m dari kos ditambah lagi sudah lama rasa ingin bertemu langsung dengan beliau dan ikut berdiskusi serta menyerap ilmu dari Mantan Ketua MK dan Menteri Pertahanan RI ini.

Acarapun dimulai dengan Prof. Dr. Mahfud MD sebagai pemantik diskusi yang bertemakan “Menangkal Radikalisme dan Penggunaan Isu SARA dalam Pilkada. Secara detail beliau menjelaskan. Beliau memulai dengan menjelaskan tentang bentuk Negara Indonesia yaitu sebuah Negara Demokrasi yang berdasarkan kepada Pancasila. Demokasi sebenarnya bukanlah system yang baik. Tetapi Demokasi adalah pilihan terbaik dan tepat sesuai dengan kondisi bangsa Indonesia yang memilki banyak suku, bangsa dan budaya. Termasuk bentuk Negara Khilafah yang akhir-akhir ini sering di sebut oleh sebagian kelompok merupakan system pemerintahan yang tepat dan paling baik untuk di terapkan di Indonesia. “Tunjukkan kepada saya Negara Khilafah mana saat ini yang telah berhasil dan sukses membangun negaranya?”  beliau menantang kepada semua peserta untuk menyebutkan Negara Islam yang telah berhasil negaranya berada dalam kedamaian dan ketenteraman.

Radikalisme dalam pengertiannya adalah upaya dari seseorang atau sekelompok orang untuk merubah sebuah dasar system kenegaraan yang telah disepakati sebagai keputusan final. Radikalisme sangat mudah terwujud melalui proses intolerensi dan pemanfaatan isu SARA (Suku Agama Ras dan Antar Golongan). Telah banyak contoh Negara yang terpecah dan berperang karena gagal dalam menjaga tolerensi dalam beragama. Perbedaan itu adalah hal yang sudah di takdirkan oleh Allah. Maka jangan jadikan perbedaan menjadi permasalahan yang dapat memecah  belah bangsa. “Setiap manusia pasti mempunyai Negara, sehingga kewarganegaraan yang melekat pada setiap manusia itu adalah fitrah yang tidak bisa dihindari”, tambah baliau ketika menjelaskan bahwa kita tidak bisa tidak memiliki kewarganegaraan. Menurutnya, “Indonesia perhari ini sudah memiliki 17.504 pulau dan 16.056 pulau sudah bernama dan masuk di PBB bahwa ini pulau milik Indonesia. Indonesia juga memiliki lebih dari 700 suku. Sampai sekarang Indonesia tetap utuh sebagai bangsa Negara itu semua karena kita memiliki Pancasila.”

Yang paling memprihatinkan saat ini adalah ternyata radikalisme telah merongrong dunia pendidikan bahkan sampai pendidikan yang paling dasar yaitu sekolah dasar. Tidak bisa kita pungkiri bahkan kita bisa melihat disekitar kita beberapa sekolah dasar swasta yang begitu mudah mengajarkan benih-benih radikalisme dengan mengajarkan kepada siswa didiknya untuk tidak hormat kepada Bendera Merah Putih, Tidak boleh menyanyikan lagu Indonesia raya, tidak boleh menyanyikan lagu-lagu wajib. Serta tidak diperbolehkan melakukan kegiatan budaya yang telah menjadi peninggalan para pendahulu dan Ulama. Bahkan ada kejadian ketika seorang bidan yang akan melakukan imunisasi kepada siswa SD sambil menannyakan “Apa cita-cita kamu dek?” dan si bocah menjawah “Aku ingin berjihad ke Amerika”. Whatttsss?? Sang bidan pun kaget tidak menyangka. Bahkan ada yang mengatakan “saya tidak mau di suntik, karena suntikan itu haram” Waduhhhhh.. Yang memprihatinkan adalah bagaimana bisa sekolah-sekolah tersebut mendapat ijin mendirikan sekolah. Sekolah seperti ini tidak bisa dipungkiri adanya dan ini terjadi bahkan disetiap daerah.

Mari kita perangi radikalisme mulai dari keluarga kita dan lingkungan. Jadikan anak-anak kita anak-anak bangsa yang mencintai bangsanya sendiri, bukan mencintai bangsa lain. Lebih berhati-hati dalam memilih pendidikan untuk anak. Pelajari dulu sejarah dan visi misi sekolah itu didirikan. Sehingga kita tidak salah memilih dan bisa ikut menjaga keutuhan NKRI sebagai bentuk final Negara Indonesia.

Server

More »

Catatan

More »