Berdiskusi dengan Prof. Mahfud MD


Radikalisme telah menjadi topik hangat beberapa bulan atau bahkan beberapa hari terakhir. Dan sore tadi ketika saya melihat status Whatsapp salah teman menampilkan background sebuah event, tiba-tiba saja saya bertanya 

“ Acara apa bro..?” 

“Forum diskusi menangkal radikalisme” balas dia. Wah..asik juga ini,

“Siapa pembicaranya? Dimana?” aku langsung bertanya.

“Pak Mahfud MD, Buruan kesini bentar lagi mulai di Semar Resto”

Tanpa berpikir panjang lebar tingggi lagi aku pun langsung cuci muka dan gassss…, karena memang lokasi seminar hanya berjarak 500 m dari kos ditambah lagi sudah lama rasa ingin bertemu langsung dengan beliau dan ikut berdiskusi serta menyerap ilmu dari Mantan Ketua MK dan Menteri Pertahanan RI ini.

Acarapun dimulai dengan Prof. Dr. Mahfud MD sebagai pemantik diskusi yang bertemakan “Menangkal Radikalisme dan Penggunaan Isu SARA dalam Pilkada. Secara detail beliau menjelaskan. Beliau memulai dengan menjelaskan tentang bentuk Negara Indonesia yaitu sebuah Negara Demokrasi yang berdasarkan kepada Pancasila. Demokasi sebenarnya bukanlah system yang baik. Tetapi Demokasi adalah pilihan terbaik dan tepat sesuai dengan kondisi bangsa Indonesia yang memilki banyak suku, bangsa dan budaya. Termasuk bentuk Negara Khilafah yang akhir-akhir ini sering di sebut oleh sebagian kelompok merupakan system pemerintahan yang tepat dan paling baik untuk di terapkan di Indonesia. “Tunjukkan kepada saya Negara Khilafah mana saat ini yang telah berhasil dan sukses membangun negaranya?”  beliau menantang kepada semua peserta untuk menyebutkan Negara Islam yang telah berhasil negaranya berada dalam kedamaian dan ketenteraman.

Radikalisme dalam pengertiannya adalah upaya dari seseorang atau sekelompok orang untuk merubah sebuah dasar system kenegaraan yang telah disepakati sebagai keputusan final. Radikalisme sangat mudah terwujud melalui proses intolerensi dan pemanfaatan isu SARA (Suku Agama Ras dan Antar Golongan). Telah banyak contoh Negara yang terpecah dan berperang karena gagal dalam menjaga tolerensi dalam beragama. Perbedaan itu adalah hal yang sudah di takdirkan oleh Allah. Maka jangan jadikan perbedaan menjadi permasalahan yang dapat memecah  belah bangsa. “Setiap manusia pasti mempunyai Negara, sehingga kewarganegaraan yang melekat pada setiap manusia itu adalah fitrah yang tidak bisa dihindari”, tambah baliau ketika menjelaskan bahwa kita tidak bisa tidak memiliki kewarganegaraan. Menurutnya, “Indonesia perhari ini sudah memiliki 17.504 pulau dan 16.056 pulau sudah bernama dan masuk di PBB bahwa ini pulau milik Indonesia. Indonesia juga memiliki lebih dari 700 suku. Sampai sekarang Indonesia tetap utuh sebagai bangsa Negara itu semua karena kita memiliki Pancasila.”

Yang paling memprihatinkan saat ini adalah ternyata radikalisme telah merongrong dunia pendidikan bahkan sampai pendidikan yang paling dasar yaitu sekolah dasar. Tidak bisa kita pungkiri bahkan kita bisa melihat disekitar kita beberapa sekolah dasar swasta yang begitu mudah mengajarkan benih-benih radikalisme dengan mengajarkan kepada siswa didiknya untuk tidak hormat kepada Bendera Merah Putih, Tidak boleh menyanyikan lagu Indonesia raya, tidak boleh menyanyikan lagu-lagu wajib. Serta tidak diperbolehkan melakukan kegiatan budaya yang telah menjadi peninggalan para pendahulu dan Ulama. Bahkan ada kejadian ketika seorang bidan yang akan melakukan imunisasi kepada siswa SD sambil menannyakan “Apa cita-cita kamu dek?” dan si bocah menjawah “Aku ingin berjihad ke Amerika”. Whatttsss?? Sang bidan pun kaget tidak menyangka. Bahkan ada yang mengatakan “saya tidak mau di suntik, karena suntikan itu haram” Waduhhhhh.. Yang memprihatinkan adalah bagaimana bisa sekolah-sekolah tersebut mendapat ijin mendirikan sekolah. Sekolah seperti ini tidak bisa dipungkiri adanya dan ini terjadi bahkan disetiap daerah.

Mari kita perangi radikalisme mulai dari keluarga kita dan lingkungan. Jadikan anak-anak kita anak-anak bangsa yang mencintai bangsanya sendiri, bukan mencintai bangsa lain. Lebih berhati-hati dalam memilih pendidikan untuk anak. Pelajari dulu sejarah dan visi misi sekolah itu didirikan. Sehingga kita tidak salah memilih dan bisa ikut menjaga keutuhan NKRI sebagai bentuk final Negara Indonesia.


EmoticonEmoticon